Legislator Pilih Murah

GAJI anggota DPRD tentunya lebih besar dari mayoritas pegawai negeri sipil (PNS). Belum lagi ditambah tunjangan yang diperoleh tiap bulan. Meski demikian, dalam soal kemeja bermotif, ada legislator memilih berdasar murahnya harga.

“Saya pakai kemeja sasirangan setiap Jumat. Namun sasirangan yang saya pakai tidak dari bahan yang asli tapi dari cetakan,” kata salah satu anggota DPRD HST (Hulu Sungai Tengah), H Syarkawi di Barabai, Jumat (3/12).

Menurut dia, koleksi kemeja sasirangannya lebih banyak produksi pabrikan karena harganya lebih murah dan mudah diperoleh. “Kalau dari cetakan harganya hanya sekitar Rp 110 ribu sedangan sasirangan asli harganya bisa Rp 300-400 ribu di pasar Barabai. Motifnya juga lebih variatif,” ujarnya. Baca lebih lanjut

Iklan

Bikin Rusak Budaya Banjar

  • Pemasok Mengaku Berdasar Permintaan

Sasirangan

POSTER - Salah satu poster yang dipampang salah seorang pengusaha sekaligus perajin sasirangan di Banjarmasin, kemarin. Foto by: BANJARMASIN POST GROUP/ SALMAH

BANJARMASIN – Beredar bebasnya kain sasirangan printing (cetak) tak hanya mencemaskan para perajin. Budayawan Banua juga bereaksi keras.

Salah seorang budayawan, Syamsiar Seman dengan lantang menilai peredaran sasirangan ‘aspal’ (asli tapi palsu) itu merusak tatanan budaya Banjar.

“Terus terang saya tidak setuju. Itu merusak karena  dari sisi pembuatannya bukan kerajinan tangan lagi, tetapi oleh mesin,” tegas Syamsiar kepada BPost, Rabu (1/12). Menurut dia, pemerintah daerah harus segera bersikap untuk menertibkan peredaran sasirangan printing.

Selain itu, menyadarkan warga Banua yang tidak mendukung pelestarian budaya Banjar. “Jelas bukan hanya prihatin, tetapi juga menolak. Orang Banjar harus disadarkan untuk selalu memelihara kerajinan ciri khas Banjar,” tegasnya.Hal senada dilontarkan budayawan, Syarifudin. Dia menegaskan  kehadiran teknologi printing pasti mengancam para perajin sasirangan yang menggunakan teknologi manual.
Baca lebih lanjut

Selera Konsumen

SOSIOLOG Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), H Wahyu MS memiliki pendapat lain. Dia menilai beredarnya sasirangan printing adalah keniscayaan dalam mekanisme pasar.

Semua tergantung selera konsumen. Merekalah yang memilih, menggunakan sasirangan asli atau ‘aspal’ (asli tapi palsu).

“Lajuperkembangan teknologi tidak bisa dibendung. Berbisnis kan sah-sah saja. Hanya saja bagaimana agar tetap menjaga nilai-nilai lokal bisa tetap eksis,” katanya, kemarin. Baca lebih lanjut

Perajin Sasirangan Cemas

  • Kalsel Diserbu Kain Printing

BANJARMASIN – Di sebuah toko yang khusus menjual kain sasirangan, tergantung karton putih bertuliskan: Palsu, tidak untuk dijual. Produk Cina. Karton itu dijepitkan pada kain sasirangan.

Sasirangan

POSTER - Salah satu poster yang dipampang salah seorang pengusaha sekaligus perajin sasirangan di Banjarmasin, kemarin. Foto by: BANJARMASIN POST GROUP/ SALMAH

Selintas tidak ada perbedaan antara kain sasirangan yang ditumpuk dan digantung itu. Namun, menurut seorang penjaga toko, poster itu sengaja digantung agar konsumen mengetahui adanya kain sasirangan ‘aspal’ (asli tapi palsu).

Sejak setahun ini, para perajin kain khas Banua itu mendapat pesaing berat yakni pengusaha kain sasirangan printing (warga menyebut sasirangan China). Tidak seperti sasirangan asli yang dibikin  menggunakan tenaga manusia, kain itu ‘dirajin’ menggunakan mesin.

Nasib ini seperti dialami perajin batik di Jawa.

Berdasar pantauan BPost, banyak pedagang –yang tidak memproduksi sendiri– menjual kain jenis itu, seperti para pedagang di lantai dua Pasar Ujung Murung, Banjarmasin. “Saya telah dua bulan ini menjualnya. Barangnya dari Jawa. Harganya Rp 35 ribu hingga Rp 65 ribu per meter. Ada pemasok yang datang,” ucap seorang pedagang, H Aliansyah, kemarin. Baca lebih lanjut

Bermental Bisnis

SEKRETARIS Dekranasda Kalsel, H Hasan Talahu menilai proses produksi kerajinan sasirangan terlalu lama sehingga sulit memenuhi permintaan masyarakat yang ingin serbacepat dan praktis.  Dengan sistem printing, produksi kain sasirangan bisa seperti kain batik yang mudah didapatkan di berbagai tempat.

“Sangat disayangkan, para perajin hanya memilki mental dagang. Tidak memiliki mental bisnis.

Artinya, habis bikin barang, selesai. Tidak berupaya membesarkan usaha dan bagaimana memahami keinginan pasar,” katanya kepada BPost, kemarin.

Bagi dia, tidak ada hal yang perlu dicemaskan dengan serbuan sasirangan printing. Pasalnya, segmennya pasti berbeda. “Justru yang diharapkan itu tidak ada orang luar yang memproduksi sasirangan dengan teknik printing,” kata Hasan. Baca lebih lanjut

Mereka Ribut

PADA 2007, kami melakukan penjajakan dengan pabrik di Jawa untuk membikin sasirangan printing. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan seragam anak sekolah karena biaya produksi sasirangan printing lebih murah.

Kami membuat sample kemudian ditawarkan ke sekolah-sekolah. Sasirangan printing memiliki kelebihan seperti motif dan warnanya bisa seragam meski dalam jumlah banyak.

Pemerintah tidak bisa melarang peredaran sasirangan printing karena dengan adanya itu justru mendorong dan menumbuhkembangkan persaingan ke arah yang positif, seperti kualitas.

Tetapi upaya kami itu tidak mendapat respons dari (pengelola) sekolah. Perajin, juga merasa usahanya dimatikan. Perajin ribut. Bahkan, ada yang langsung menelepon saya.

Padahal tidak seperti itu. Tujuannya agar mengembangkan sasirangan di kalangan anak sekolah. Peruntukannya juga terbatas, khusus untuk anak sekolah. Namun karena tidak mendapat respons, penjajakan itu kami hentikan.

Menurut saya, perajin sulit bersaing dengan pabrikan. Untuk itulah, harus ada aturan yang mengatur persaingan tersebut. Pengusaha besar hendaknya bersaing dengan sesama pengusaha besar pula. Terjadi persaingan yang sifatnya selevel dan tidak mematikan perajin.

Di sisi lain, perajin harus lebih kreatif untuk meningkatkan kualitas karena selera pasar kerap berubah. Terutama motif dan pewarnaan agar bisa bersaing. (Banjarmasin post)