Seperti Kembali ke Hukum Rimba

HARI-hari ini publik di tanah air kembali di sodori realitas versi media mengenai aneka peristiwa yang menunjukkan aksi-aksi keras sekelompok orang atas kelompok lain. Di Lampung, terjadi penyerbuan atas sebuah kampung diikuti pembakaran rumah penduduk.

Belum kering kabar itu dari perbincangan, meledak pula aksi massa di Bima, Nusa Tenggara Barat. Sangat boleh jadi, ini aksi pertama di tanah air: rakyat membakar kantor bupati mereka sendiri.

Di Jawa Barat, aksi buruh melumpuhkan lalu-lintas di jalan tol, sementara kekerasan oleh oleh perorangan atau kelompok terhadap warga dan aparat terus terjadi secara sporadis di Aceh dan di Papua. Baca lebih lanjut

Iklan

(Adakah) Niat Baik Pejabat

MENGAPA banyak orang di negeri ini berlomba-lomba ingin menjadi pejabat (negara)? Jawabannya, mudah. Selain memperoleh gaji yang besar, dan diberikan berbagai fasilitas serba mewah, mulai rumah, kendaraan bermotor dan harta benda lainnya. Selain juga tentunya keterkenalan di mata publik.

Jadi, tidak perlu heran kalau setiap orang berebut ingin menjadi pejabat. Mulai jabatan paling tertinggi dalam hirarki kepemimpinan di negeri ini, presiden, menteri, gubernur, bupati, dan wali kota, sampai yang paling rendah; kepala desa, menjadi incaran banyak orang. Tidak lagi terbatas dia penguasa, orang biasa, sampai para politisi yang memang dikenal paling bernafsu memburu posisi-posisi terhormat tersebut. Baca lebih lanjut

Mutasi dan Sindroma Jabatan

Oleh: H Muhammad Arsyad

Awal 2012 opini kita disemarakkan dengan berbagai pemberitaan yang menyangkut mutasi jabatan di berbagai daerah, baik di tingkat provinsi maupun di tingkat kabupaten dan kota.

Pelantikan pejabat baru secara besar-besaran terjadi di mana-mana. Bagi yang kebetulan mendapat promosi bisa tersenyum ria, namun bagi yang nasibnya lagi apes terkena musibah “mutilasi” harus mampu bersabar dan menahan diri agar jangan sampai terkena “sindroma”.

Salah satu penyebab post power syndrome adalah “mutilasi jabatan”. Dalam aturan kepegawaian memang tidak dikenal istilah mutilasi dalam jabatan. Dan seorang pemimpin tidak mungkin berpikiran untuk melakukan mutilasi terhadap bawahannya. Baca lebih lanjut