Renungan Sepulang Haji

KH Husin Naparin Lc MA

KH Husin Naparin Lc MA

SELAMAT datang jemaah haji. Anda diadang sejumlah pertanyaan, antara lain berapa kali mencium Hajar Aswad, apakah unta juga batuk. Seorang haji ditanya: Apakah sewaktu di Tanah Suci pernah ditemukan memakan buah tasbih.

Pak haji terperanjat, karena di Tanah Suci dia tidak pernah menemukan buah tasbih, yang dijual orang cuma biji tasbih. Karena gengsi ia menjawab: Waktu aku di sana tasbih balum bakambangan (maksudnya, belum berbunga apalagi berbuah).

Naser Khosrov, seorang penyair Persi pernah menanya seorang haji, berikut ini kita formulasikan dengan dialog sebagai berikut: Baca lebih lanjut

Iklan

Penyelamat Bangsa

KH Husin Nafarin

KH Husin Nafarin

NABI SAW bercerita pada zaman dahulu ada tiga pengembara yang kemalaman di perjalanan. Mereka menemukan gua dan beristirahat di sana.

Beberapa lama kemudian pintu gua tertutup oleh runtuhan batu besar yang tidak bisa digeser, sehingga mereka terkurung di dalam gua itu.

Ketiganya merasa yakin tidak akan bisa selamat, kecuali berdoa dengan mengemukakan amal saleh masing-masing.

Yang pertama berdoa: Ya Allah, adalah menjadi kebiasaanku mendahulukan kepentingan ayah dan ibuku daripada istri dan anak-anakku, lebih-lebih dalam hal makanan. Suatu malam ayah ibuku tertidur sebelum makan. Aku tidak ingin mengganggu tidur keduanya. Aku dan anak istriku pun menunda makan, menunggu keduanya terbangun.

Ternyata keduanya bangun setelah terbit fajar. Makanan pun kuberikan. Sesudah itu barulah kami menyantap makanan. Ya Allah, jika amalku ini Engkau ridai, selamatkanlah kami dari malapetaka ini. Usai ia berdoa, batu penutup pintu gua bergeser sedikit, tetapi mereka masih belum bisa keluar. Baca lebih lanjut

Indonesiaku

Oleh: KH Husin Naparin Lc MA

KONDISI negeri dan negara kita, boleh dikatakan belum stabil. Kita masih membangun. Membangun bangsa dan negara, bukan hanya membuat jalan-jalan raya dan taman, bukan hanya membangun jembatan dan gedung-gedung bertingkat, bukan hanya mengolah sawah dan mendirikan pabrik; tidak, tetapi membangun manusianya, membangun mental bangsa agar menjadi orang bertakwa menurut bahasa agama.

“Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya,” inilah pesan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Membangun manusianya didahulukan daripada membangun fisik; pembangunan fisik yang dibangun susah payah berpuluh tahun, bisa ambruk dalam hitungan menit bila jiwa manusianya rapuh dan lemah.

Enam puluh lima tahun kita merdeka. Penulis terusik beberapa SMS berisikan, antara lain pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati 20 % dari 237 juta penduduk Indonesia; dana plesiran anggota DPR naik 76 kali lipat dibanding 2005, seperduanya untuk keluar negeri; rumah dinas presiden dianggarkan 203 miliar, 42 miliar di antaranya untuk furniture; semester I 2010 pemerintah akan menandatangani dua puluh perjanjian utang baru, senilai US$ 2,48 miliar; 36,192 Yen dan 20,88 juta Euro.

Sedangkan utang lama bernilai Rp 1.625 T; Human Developmant Index Indonesia 2009 pada urutann ke 111 di bawah Palestina (110) dari 176 negara, jauh dengan Malaysia (66); seratus juta penduduk miskin (standar Bank Dunia) berpendapatan di bawah US$ 2/hari; ada 183 kabupaten tertinggal; index korupsi 9,07 (nyaris sempurna 10). Sekitar 4,9% (1,39 juta) balita menderita gizi buruk. Benarkah semua ini? Jika benar, alangkah prihatinnya kita.

Apa yang harus diperbuat untuk menyelamatkan bangsa dan negara ini; kiranya anak bangsa lebih-lebih para pejabat dan penguasa berpikir apa yang bisa diberikan, seperti dulu sewaktu para pendahulu kita merebut dan mempertahankan kemerdekaan; bukan berpikir apa yang bisa “dikutil” dari negara dan negeri ini.

Kemaksiatan menjadi-jadi dan pelacuran terjadi di mana-mana, baik terselubung maupun nyata, ada LSM yang menggerakkan kontes homo dan lesbian, bahkan dilakukan rekrut anak muda untuk menjadi homo dan lesbian. Perkelahian perorangan, bahkan antarkelompok terjadi begitu saja, bahkan ada yang hanya masalah sepele, emosi anak bangsa ini dari ramah menjadi berang.

Dunia ini sebenarnya adalah kebun rindang dihiasi lima tanaman, yaitu ilmunya ulama dan cerdik cendekia, keadilan para pejabat dan penguasa, ibadahnya ahli ibadah, amanahnya para pedagang dan pemegang ekonomi, disiplin dan dedikasinya pekerja , demikian menurut atsar shahabi.

Namun demikian, Ibnu Mubarak mensinyalir, rusaknya masyarakat muncul melalui manusia-manusia terhormat. Mereka itu ialah:

Para ulama dan cerdik cendekia, seharusnya mereka menjadi pewaris para nabi, tapi bila kelompok ini mempermainkan agama dan tergiur harta, masyarakat pun sesat karena tak ada ikutan dan panutan.

Pasukan bersenjata, mereka seharusnya menjadi tentara Tuhan di muka bumi, tapi bila kelompok ini melirik harta dan mabuk sanjungan, musuh-musuh angkat bicara dan angkat senjata.

Ahli ibadah seharusnya (dengan doa dan ibadah) mereka menjadi bentengnya penghuni bumi, bila kelompok ini silau terhadap dunia, kejahatanpun akan merebak tanpa dinyana.

Para pedagang dan pemegang ekonomi, seharusnya mereka menjadi bendahara Tuhan di atas bumi, tapi bila kelompok ini khianat, kejujuran hancur dan ekonomi menjadi kacau.

Para petugas dan pekerja, seharusnya mereka menjadi pagar penyelamat umat, tapi bila pagar menjadi srigala bagaimana keamanan bisa didapat. (At-Tafsir Al-Kabir, jilid II, hal. 182). (*)

Trikora

TRIKORA adalah kepanjangan dari tri komando rakyat, ia adalah judul sebuah pidato 17 Agustus, almarhum Bung Karno. Trikora yang kita maksudkan di sini bukan itu, tetapi tiga komando Rabbul alamin, seperti yang diistilahkan almarhum Hamda, seorang mubalig di Amuntai yang pernah penulis simak di masa remaja.

Trikora yang beliau maksudkan terambil dari surah Alala ayat 14 dan 15 yang artinya: Sesungguhnya beruntunglah orang yang tazakka (membersihkan diri dengan beriman) dan zakara (mengingat/menyebut) nama Tuhannya, lalu ia shalah. Menurut ayat ini, ada tiga syarat untuk meraih Al Falah (keberuntungan), yaitu:
Baca lebih lanjut