Banjarmasin Post Rabu 18 Mei 2016

Iklan

Perajin Sasirangan Cemas

  • Kalsel Diserbu Kain Printing

BANJARMASIN – Di sebuah toko yang khusus menjual kain sasirangan, tergantung karton putih bertuliskan: Palsu, tidak untuk dijual. Produk Cina. Karton itu dijepitkan pada kain sasirangan.

Sasirangan

POSTER - Salah satu poster yang dipampang salah seorang pengusaha sekaligus perajin sasirangan di Banjarmasin, kemarin. Foto by: BANJARMASIN POST GROUP/ SALMAH

Selintas tidak ada perbedaan antara kain sasirangan yang ditumpuk dan digantung itu. Namun, menurut seorang penjaga toko, poster itu sengaja digantung agar konsumen mengetahui adanya kain sasirangan ‘aspal’ (asli tapi palsu).

Sejak setahun ini, para perajin kain khas Banua itu mendapat pesaing berat yakni pengusaha kain sasirangan printing (warga menyebut sasirangan China). Tidak seperti sasirangan asli yang dibikin  menggunakan tenaga manusia, kain itu ‘dirajin’ menggunakan mesin.

Nasib ini seperti dialami perajin batik di Jawa.

Berdasar pantauan BPost, banyak pedagang –yang tidak memproduksi sendiri– menjual kain jenis itu, seperti para pedagang di lantai dua Pasar Ujung Murung, Banjarmasin. “Saya telah dua bulan ini menjualnya. Barangnya dari Jawa. Harganya Rp 35 ribu hingga Rp 65 ribu per meter. Ada pemasok yang datang,” ucap seorang pedagang, H Aliansyah, kemarin. Baca lebih lanjut

Bermental Bisnis

SEKRETARIS Dekranasda Kalsel, H Hasan Talahu menilai proses produksi kerajinan sasirangan terlalu lama sehingga sulit memenuhi permintaan masyarakat yang ingin serbacepat dan praktis.  Dengan sistem printing, produksi kain sasirangan bisa seperti kain batik yang mudah didapatkan di berbagai tempat.

“Sangat disayangkan, para perajin hanya memilki mental dagang. Tidak memiliki mental bisnis.

Artinya, habis bikin barang, selesai. Tidak berupaya membesarkan usaha dan bagaimana memahami keinginan pasar,” katanya kepada BPost, kemarin.

Bagi dia, tidak ada hal yang perlu dicemaskan dengan serbuan sasirangan printing. Pasalnya, segmennya pasti berbeda. “Justru yang diharapkan itu tidak ada orang luar yang memproduksi sasirangan dengan teknik printing,” kata Hasan. Baca lebih lanjut