MENGUNGKAP POPULASI ORANGUTAN DI KALSEL: Lempar Kayu Saat Difoto

BANJARMASINPOST, Selama ini terjadi perdebatan tentang ada-tidaknya populasi orangutan di Kalsel. ‘Arus’ besar pendapat mengatakan di bumi Banua tidak terdapat hewan yang masuk spesies kera besar tersebut. Ternyata itu keliru. Di Kalsel, tepatnya di hutan kawasan perbatasan Hulu Sungai Utara (HSU) dan Tabalong, terdapat populasi orangutan.

Kepastian itu diperoleh oleh tim ekspedisi gabungan pada awal bulan ini. Mereka melihat secara langsung beberapa orangutan bergelantungan di pohon, pada sore hari. Diduga mereka hendak mencari makan. Jumlahnya sekitar 50 orangutan yang terbagi dalam beberapa kelompok.

Anggota tim dari luar negeri yang menjadi saksi keberadaan hewan tersebut di Kalsel adalah Thomas, Ben dan Andrew dari Inggris, David dari Kanada, dan Chris dari Amerika Serikat (AS).

1010-GRAFIS-4-Sementara anggota tim dari Indonesia adalah Chenk, Jivan, Haris, dan Lala dari Mapala Wira Economica Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) serta Shinta dari Bali Reptile Rescue. Mereka dipandu warga setempat yang biasa disapa Mang Ahu.

“Populasi mereka makin terdesak oleh pembukaan lahan untuk kepentingan perkebunan kelapa sawit. Bahkan, saat ini kian terancam oleh maraknya kebakaran lahan,” ucap salah seorang anggota tim, Chenk kepada BPost, kemarin.

Ekspedisi diawali dari Banjarmasin pada Rabu (1/10) lalu. Tim langsung menuju HSU, tepatnya di Desa Haur Gading dan Desa Jingah Bujur, Kecamatan Haur Gading. Dari desa itu, anggota tim harus berjalan kali memasuki kawasan hutan. Saat berada di dalam kawasan hutan, mereka sempat ‘berputar-putar’ di bawah sengatan sinar matahari. Rasa haus yang luar biasa menjadi aral perjalanan tim, apalagi sangat sulit menemukan sumber air bersih.

Karena hari sudah menjelang malam, tim memutuskan menginap di dalam hutan. Mereka tidur dalam hutan. Hari selanjutnya penyusuran hutan kembali dilakukan. Seperti hari pertama, mereka tidak berhasil menemukan jejak hewan tersebut.

Kejutan diperoleh pada hari ketiga, Jumat (3/10) sore. Di tengah rasa lelah yang makin membelit dan mulai munculnya keputusasaan, anggota tim melihat satu orangutan berbadan cukup besar dan diduga berjenis kelamin jantan, bergelantungan di pohon tinggi-pohon tinggi.

Melihat itu, rasa lelah langsung hilang. Berganti kekaguman dan keharuan.

Namun, saat didekati, orangutan itu langsung menghindar sembari memperlihatkan isyarat penolakan. “Kami cuma bisa melihat, tak bisa mendekat. Kami yakin orangutan itu pimpinan kelompok. Dia sebesar sapi. Saat kami memotret, orangutan itu langsung mematahkan kayu dan melemparkan ke arah kami. Itu tanda dia tidak mau diganggu,” ujar Chenk.

Menurut dia, berdasar pantauan, hewan itu memiliki bulu berwarna cokelat kemerahan. Saat bergelantungan terlihat lengannya yang panjang dan kuat, kaki pendek, serta tidak mempunyai ekor.

Hewan itu diduga berjenis kelamin jantan karena mempunyai benjolan dari jaringan lemak di kedua segi muka.

Jika lebih ke dalam hutan itu, akan lebih banyak orangutan yang bisa ditemui. Tetapi kami harus meninggalkan hutan itu karena Sabtu (4/10) sudah harus balik ke Banjarmasin. Selain itu kami juga kesulitan mendapatkan air bersih,” kata dia.

Diperkirakan populasi di kawasan itu berjumlah sekitar 50 orangutan. Hal itu didasarkan banyaknya sarang. “Bentuknya menyerupai sarang burung dengan diameter besar di atas pohon. Mereka mungkin lebih senang tinggal di atas pohon karena takut terhadap ancaman hewan lain dan perburuan oleh manusia,” tegas Chenk.

Informasi Warga

Anggota tim lain, Jivan menambahkan, ekspedisi menyusuri jejak orangutan di Kalsel itu dilakukan setelah mendapat informasi dari warga Kecamatan Haur Gading, HSU, terutama yang kerap ke hutan untuk mencari kayu.

“Mereka mengatakan sering melihat orangutan yang sedang bergelantungan. Bahkan, kabarnya mereka ‘bersahabat’ dengan warga. Mereka sangat dekat karena sering bertemu,” ujarnya.

Diduga pada musim kemarau ini orangutan di hutan tersebut lebih sulit ditemui karena mereka memilih berada di kawasan dalam hutan. Lain cerita bila musim hujan. Saat itu, mereka biasanya mudah ditemui di pinggiran hutan.

Selain itu, diduga mereka kabur ke dalam hutan karena maraknya tindak pembakaran lahan. “Sungguh menyedihkan. Akibat kebakaran yang disengaja dilakukan untuk membuka lahan perkebunan sawit, populasi orang utan mengungsi lebih ke dalam hutan,” kata Jivan.

Sumber: Banjarmasin Post edisi cetak Sabtu (11/10/2014) atau klik http://epaper.banjarmasinpost.co.id

One thought on “MENGUNGKAP POPULASI ORANGUTAN DI KALSEL: Lempar Kayu Saat Difoto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s