4 Tahun Belajar di Bekas WC

BANJARMASINPOST, Terpaksa menjadikan bekas ruang toilet dan rumah dinas (rumdin) guru sebagai ruang kelas. Kondisi itu sangatlah ironis karena terjadi di sekolah yang lokasinya hanya sekitar 25 kilometer dari Ibu Kota Tabalong, Tanjung.

Apalagi, Tabalong adalah salah satu kabupaten yang kaya sumber daya alam (SDA) dan hasil perkebunan. Banyak perusahaan besar dari skala lokal, nasional hingga internasional yang mengais rezeki di kabupaten tersebut.

Tetapi seperti itulah yang terjadi di SDN 2, Desa Kembang Kuning, Haruai. Jika sepintas dilihat dari luar, bangunan sekolah yang terletak sekitar 10 kilometer dari pusat kecamatan tersebut masih bagus karena terbuat dari beton dengan cat yang belum kusam.

Akan tetapi, sudah bertahun-tahun, proses belajar mengajar di sekolah tersebut juga menggunakan ruangan yang semula digunakan untuk toilet atau WC sekolah dan rumdin guru sebagai tambahan ruang kelas.

Hal itu terpaksa dilakukan karena usulan untuk menambah ruang yang diajukan pengelola sekolah, belum juga ada tindak lanjutnya.

Saat ini, sekolah tersebut memiliki 232 murid. Sementara ruang kelas hanya enam unit plus satu ruang untuk para guru. Kebutuhan ruang kelas bagi murid-murid dari kelas I sampaiVI sebanyak delapan unit. Perinciannya, kelas I, IV,V dan VI masing-masing satu ruang serta kelas II dan III masing-masing dua ruang.

Karena ruang yang tersedia hanya enam unit, maka dua ruang lain yang digunakan untuk proses belajar mengajar murid kelas IIB dan IIIB menggunakan dua rumdin guru yang berbentuk kopel. Sementara ruang bekas WC digunakan untuk pelajaran agama secara bergiliran bagi semua kelas. Diperkirakan ukuran ruang bekas WC itu adalah empat kali tiga meter. Sementara ruang di rumdin, masing-masing berukuran 4×6 meter.

Berdasar pantauan, jumlah murid yang berkelas di rumdin hanya 18 orang. Antara meja guru dan meja murid, tidak berjarak. Itu pun banyak yang dalam kondisi rusak. Kaca jendela juga ada yang pecah. Parahnya lagi, bila hujan turun lebat, lantai yang tidak berkeramik akan terendam air.

“Kami terpaksa menggunakan rumah dinas dan bekas WC itu karena memang kekurangan kelas. Kami gunakan sejak 2010,” ujar salah seorang guru, Ani Rosita kepada BPost, kemarin.

Menurut dia, pengelola sekolah sudah dua kali mengajukan permohonan penambahan ruang kelas karena kapasitas ruang sudah tidak sebanding jumlah murid. Ani berharap, permohonan itu segera dikabulkan karena dalam kondisi saat ini, proses belajar mengajar tidak bisa berjalan secara nyaman.

“Ada informasi pada 2015, ada tambahan dua ruang. Juga ada orang dari dinas (Dinas Pendidikan/Disdik) yang datang ke sini. Semoga saja bisa mendapat tambahan ruang kelas,” kata dia.

Selain kekurangan ruang kelas, fasilitas pendukung di sekolah ini juga memerlukan perbaikan dan penambahan, seperti meja, kursi dan buku. Maklum saja, meja dan kursi di sekolah itu berasal dari sumbangan Dana Alokasi Khusus (DAK) 2009 lalu. Sejak itu tidak lagi bantuan yang datang sehingga jika ada yang rusak tetapi masih bisa digunakan, diperbaiki sendiri oleh pengelola sekolah.

Tak hanya itu, murid-murid sekolah itu juga tidak bisa menikmati fasilitas perpustakaan sebagaimana sekolah lain. Mereka juga tidak memiliki ruang representatif untuk unit kesehatan sekolah (UKS). Padahal, sekolah ini dulunya pernah meraih penghargaan UKS terbaik di tingkat kabupaten serta beberapa penghargaan lain.

Keinginan bisa belajar di ruang kelas lebih nyaman diucapkan seorang murid kelas IIIB, Agus.

“Ulun handak ai kelasnya yang bagus,” ujar dia sembari tersenyum.

Menurut dia, belajar di ruang rumdin, cukup nyaman saja akan tetapi terkadang kepanasan. Selain itu jika hujan, air menggenangi lantai. “Panas pang di sini, tapi rami aja belajar di sini,’ ujarnya.

Saat dihubungi, Kepala Disdik Tabalong, Marzuki Hakim mengatakan kondisi yang dialami SDN 2 Desa Kembang Kuning akan dijadikan prioritas penanganannya. Bahkan, penambahan ruang kelas akan menjadi program kegiatan pada 2015 nanti,

“Kami akan prioritaskan adanya penambahan ruang kelas agar proses belajar mengajarnya bisa berjalan secara nyaman,” ucap Marzuki yang belum sepuluh hari menjabat Kepala Disdik Tabalong.

Sumber: Banjarmasin Post edisi cetak Rabu (9/10/2014) atau klik http://epaper.banjarmasinpost.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s