Pungli di SPBU Capai Rp 100 Ribu

BANJARMASINPOST, Para sopir truk yang hendak membeli solar bersubsidi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kawasan Banua Anyar, Banjarmasin, mengeluh.

Mereka mengaku harus menyediakan uang hingga Rp 100 ribu untuk membayar beberapa pungutan.

Keluhan itu disampaikan sejumlah sopir kepada BPost, beberapa hari lalu. “Tolong pimpinan polisi di Kalsel ini benar-benar mengawasi. Di sana terjadi pungli (pungutan liar) yang sangat memberatkan karena banyak (bentuknya). Katanya, ada oknum yang terlibat,” kata seseorang di antara mereka.

Penelusuran pun dilakukan koran ini. Suatu malam di pekan lalu, jurnalis BPost menumpang salah satu truk yang saat itu sedang antre di lapangan yang berjarak sekitar 200 meter dari SPBU. Keluhan serupa dikatakan sejumlah sopir.

Mereka mengaku terpaksa menyerahkan uang sejak antre, masuk ke SPBU, membeli solar hingga saat keluar meninggalkan SPBU. Mayoritas yang antre adalah truk berbak di belakangnya (truk PS). Berdasar nomor polisinya tidak hanya dari Kalsel. Ada yang dari Kalteng (bernopol KH) dan Kaltim (bernopol KT).

Truk yang ditumpangi sudah antre di lapangan samping rumah toko (ruko) sejak pukul 20.00 Wita. Sekitar tiga jam kemudian atau sekitar pukul 23.00 Wita, datang seorang pria yang membagikan kupon antrean membeli bahan bakar minyak (BBM) di SPBU tersebut.

Melihat itu, para belasan sopir yang sedang antre langsung ‘menyerbu’. Masing-masing menyerahkan uang Rp 50 ribu untuk mendapatkan satu kupon. Ternyata, hanya pemegang kupon berlaminating itu yang akan dilayani saat pembelian solar. Nanti, saat memasuki area SPBU, ada orang yang memintai kupon tersebut.

“Kalau tidak terpaksa saya tidak mengantre di sini. Banyak pungutan, tetapi saya besok pagi-pagi harus berangkat,” kata seorang sopir truk yang namanya berada di redaksi.

Tidak berselang lama, lima unit truk yang sopirnya sudah mendapatkan kupon, perlahan memasuki area SPBU untuk membeli solar. Di sana mereka dilayani sejumlah operator berseragam.

Menurut sejumlah sopir yang sedang menunggu giliran, terkadang ada truk yang bisa langsung masuk meskipun terjadi antrean cukup panjang. Penyebabnya, sopir truk itu kenal dengan seseorang yang mereka sebut oknum petugas.

“Bisa saja langsung masuk. Telepon dulu ke oknum itu. Tetapi juga ngasih sekitar Rp 100 ribu. Saya pernah tetapi lewat teman saya yang kenal dengan dia. Kalau tidak kenal susah juga. Biasanya dia ada di SPBU,” kata seorang sopir.

Benar, sekitar 23.30 Wita, dari arah SPBU datang seorang pria yang mengendarai sepeda motor jenis matik. Dia adalah orang yang disebut oknum petugas itu.

Setelah menghitung jumlah truk yang antre, orang itu meminta sopir menjalankan truk masing-masing ke SPBU. Masuknya diatur, per lima truk.

Ternyata, truk yang hendak diisi bahan bakarnya tidak hanya antre di lapangan, tetapi ada juga di halaman tempat cuci mobil dan pinggir jalan yang lebih dekat dengan SPBU. Kabarnya, karena lokasinya lebih dekat, dikenai ‘biaya antrean’ sekitar Rp 10 ribu. Imbalannya, mereka lebih didahulukan dibanding truk yang parkir di lapangan.

Dari dalam salah satu truk yang perlahan mendekati SPBU, tiba-tiba BPost melihat ada truk lain yang masuk dari pintu masuk lain dan langsung mendekat ke mesin pengisi solar. Truk itu pun lebih diutamakan pelayanannya.

Akhirnya, truk yang ditumpangi masuk dan berhenti di depan mesin pengisian. Di sana terlibat seorang pria berbadan kekar dan mengenakan kaus warna gelap mendata jumlah truk yang masuk di SPBU. Di sini aksi pungli berbentuk tip (komisi) terjadi.

Biasanya uang kembalian ‘direlakan’ untuk operator. Jika uang pembelian pas, sopir memberi tip khusus. Besarannya beragam, antara Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu.

Pungli belum berhenti. Saat ke luar area SPBU, ada lagi beberapa orang yang meminta ‘bagian’. Rata-rata sopir memberi Rp 10 ribu.

Saat diberitahu mengenai aksi pungli tersebut, Senior Supervisor External Relation Marketing Operation Regional VI Pertamina, Andar Titi Lestari mengatakan belum bisa berkomentar.

“Saya belum bisa memberi komentar apa-apa. Seandainya memang ada buktinya, kami akan tindaklanjuti ke SPBU-nya. Seperti apa tindak lanjutnya nanti kami kabari,” ucap dia.

Pengawas SPBU tersebut, Dayat ketika dikonfirmasi mengatakan, SPBU tempatnya bekerja itu buka dari pukul 20.00 Wita hingga pukul 06.00 Wita. Akan tetapi, mulai melayani pembelian pada pukul 23.00 Wita, tergantung kepadatan arus lalu lintas.

Dia mengatakan memang ada tiga tempat yang dijadikan lokasi antrean truk pembeli. Pengelolaannya dilakukan kelompok warga.

“Kami serahkan kepada warga, karena berada di luar SPBU. Mereka mempunyai tempat sehingga (antrean) tidak mengganggu jalan,” kata dia, Selasa (7/10).

Menyinggung kabar adanya pungutan saat antrean, Dayat mengaku tidak tahu. Pengelola SPBU juga tidak pernah meminta ‘bagian’ dari hasil pungutan tersebut. “Yang terpenting bagi kami adalah berapa solar yang tersedia dan selanjutnya mendistribusikannya,” tegas dia.

Bagaimana dengan adanya kupon yang harus dibayar Rp 50 ribu?

Dayat kembali menegaskan itu adalah inisiatif warga dengan tujuan para sopir tidak berebut masuk SPBU.

“Misalnya 50 kupon, semua itu dibagi di lokasi (parkir antrean) tersebut. Begitu masuk SPBU dikumpulkan lagi dekat mesin pengisi, kemudian warga pula yang mengambil kupon itu,” ujar Dayat.

Dikemukakan dia, setiap harinya pasokan dari Pertamina sebanyak satu tangki atau 10 ribu liter. Harga yang dipatok operator sesuai dengan ketentuan yakni Rp 5.500 per liter. “Juga tidak ada tip bagi operator. Sudah kami beritahukan kepada mereka jangan menerima tip. Kalau terkait pungutan di luar SPBU, itu dikelola warga. Kami beritahu juga agar jangan memaksa,” ucapnya.

Menyinggung kabar adanya oknum aparat yang ikut ‘mengatur’, Dayat kembali membantah. Tetapi dia membenarkan ada ‘petugas’ di dalam lingkungan SPBU. “Tugasnya mengatur agar truk bergantian masuk. Jika yang di dalam sudah selesai, dia memberitahukan ke sopir lain yang masih di luar untuk masuk,” kata Dayat.

Sumber: Banjarmasin Post edisi cetak Rabu (8/10/2014) atau klik http://epaper.banjarmasinpost.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s