Batu Itu Selalu Kembali Meski Dicuri

TIANG bekas Rumah Betang Damang Batu Tumbang Anoi yang kini menjadi situs budaya. Foto: BPOST GROUP/MUSTAIN KHAITAMI

TIANG bekas Rumah Betang Damang Batu Tumbang Anoi yang kini menjadi situs budaya. Foto: BPOST GROUP/MUSTAIN KHAITAMI

BANJARMASINPOST, KESEPAKATAN damai 152 suku Dayak pada 1894 di Desa Tumbang Anoi, Damang Batu, Gunungmas, Kalteng tak lepas dari sosok bernama Damang Batu. Berkat inisiator dia, perang antarsuku dan berbagai bentuk kebudayaan yang semula dianggap sebagai pemecah persatuan berhasil dihentikan.

Para kepala suku dan perwakilan pemerintah Hindia Belanda, selama tiga bulan berkumpul di desa itu untuk membicarakan rumusan kesepakatan. Itu belum termasuk waktu yang harus digunakan untuk menyelesaikan sejumlah silang sengketa yang menjadi sumber perdebatan.

Rumah betang yang dihuni Damang Batu adalah tempat yang menjadi saksi bisu peristiwa bersejarah itu. Berdasar sejumlah foto yang masih tersimpan di Belanda, rumah panjang bertiang tingga dengan dinding kulit kayu ini menjadi latar foto bersama peserta pertemuan.

Selain rumah betang yang hanya menyisakan tiang-tiangnya itu, semuanya tinggal cerita. Tidak banyak peninggalan yang bisa dilihat di Tumbang Anoi.

“Banyak yang dicuri. Itu termasuk beberapa sapundu yang pernah ada,” kaat Juru Kunci Rumah Betang, Tiong, kemarin.

Pria berusia 81 tahun ini merupakan cucu Damang Batu dari putri keempat, Satang. Damang Batu memiliki lima anak. Sejak 1976, Tiong dipercaya pemerintah setempat menjadi juru kunci dan mendiami rumah betang tersebut.

Bersama istrinya, Tiong kini menempati rumah betang ‘baru’ yang pada 15 Januari 2005 lalu diresmikan Gubernur Kalteng (saat itu) Asmawi Agani. Lokasinya tepat berdampingan dengan tiang bekas rumah betang terdahulu yang kini dijadikan cagar budaya.

Di depan rumah betang itu, terdapat beberapa sapundu dan sandung. Sapundu adalah tiang yang digunakan untuk mengikat hewan persembahan yang menjadi pengantar roh orang yang telah meninggal menuju surga.

Sementara sandung merupakan tempat penyimpanan tulang para leluhur. Pada sandung depan rumah betang itu pula, tulang belulang jenazah Damang Batu dan keluarganya disimpan.

Di bagian dalam rumah betang, hanya terdapat satu balanga dan satu batu seukuran batok kelapa dari masa lalu. Dahulu, balanga merupakan salah satu barang berharga yang mencitrakan kesejahteraan suatu keluarga. Sementara batu bundar yang dilapisi kain, disebut sebagai batu ajaib karena beberapa kali dicuri selalu kembali ke tempat asalnya.

Rusaknya rumah betang Damang Batu, menurut Tiong, dikarenakan aksi tipu pejabat pemerintah Hindia Belanda yang saat itu berkuasa di Indonesia. Pada 1921 atau 27 tahun setelah kesepakatan damai, Jenderal Abermen dan Hotland yang berkedudukan di Kualakurun, mengatakan akan membangunkan kembali rumah betang itu di Kualakapuas. Oleh karena itu rumah betang di Tumbang Anoi harus dibongkar.

“Itu dilakukan setelah Damang Batu meninggal dunia, karena semasa hidup dia, upaya tersebut pasti akan ditentang,” kata Tiong.

Kenyataannya, janji itu tidak pernah terwujud. Sebaliknya, sejumlah barang berharga yang menjadi kebanggaan keluarga bahkan aset daerah, satu per satu hilang. Sapundu-sapundu yang berdiri tegak di depan sandung Damang Batu pun hanyalah replika dari sapundu yang hilang.

Bagi warga Dayak, hilangnya berbagai sisa peninggalan Damang Batu dari situs budaya di Tumbang Anoi merupakan hal yang sangat disayangkan. Apalagi buat mereka yang tinggal di berbagai daerah yang memiliki keterikatan emosional mendalam pada sejarah kesepakatan damai tersebut.

Sekretaris Umum Dewan Adat Darah (DAD) Kalsel Ramond, menganggap perjanjian damai di Tumbang Anoi sebagai roh, jiwa, dan napas hidup masyarakat adat Dayak yang terakumulasi dari 96 butir pasal hukum adat yang berhasil dituangkan saat itu.

Melalui keberadaan situs budaya yang ada, semangat mewujudkan persatuan warga Dayak yang sebelumnya terpecah dan terbelah bisa dirasakan sampai sekarang.

“Dengan rombongan berjumlah 11 orang, kami berupaya datang ke Tumbang Anoi agar bisa melihat secara langsung tempat yang pernah menjadi saksi sejarah itu. Pemeliharaan terhadap setiap bagian bersejarah penting dilakukan demi generasi mendatang,” kata Ramond. (*)

Sumber: Banjarmasin Post edisi cetak Rabu (8/10/2014) atau klik http://epaper.banjarmasinpost.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s