Warga Konsumsi Air Masam

BANJARMASINPOST, Krisis air bersih di Kabupaten makin meluas. Bahkan, kondisinya semakin menyebar ke daerah pedalaman. Warga pun terpaksa mengonsumsi air sungai yang rasanya masam.

Seperti dialami warga Desa Padang, Kecamatan Cintapuri harus menempuh jarak 10 kilometer untuk mendapatkan air bersih di Desa Cintapuri. Namun warga yang tidak memiliki kendaraan bermotor, terpaksa harus membeli air bersih dengan harga Rp 10 ribu untuk 3 jerigen.

“Sudah dua bulan kami kesulitan air bersih. Untuk air minum atau memasak terpaksa mengambil ke Cintapuri jaraknya 10 kilometer. Tidak semua warga punya kendaraan. Terpaksa mereka beli 10 ribu per tiga tangki,” kata Anang Syarwani, Pambakal Alalak Padang, Senin (6/10).

Menurut dia, untuk mandi atau mencuci terpaksa warga menggunakan air sungai yang rasanya masam. Air sungai tidak bisa langsung digunakan tapi harus disaring dan diendapkan lebih dulu serta diberi kapur gamping.

“Rasa masamnya tidak bisa dihilangkan begitu saja. Kalau kena mata pedih dan di kulit terasa lengket. Terpaksa dipakai pakai air yang ada itu,” ujar Anang.

Sekarang ini, sebut dia, warganya tengah menunggu pengiriman air dari BPBD. Informasi dari camat hari ini (kemarin, Red) air akan dikirim. Anang mengaku sudah menyiapkan tandon air sebanyak lima buah masing-masing berkapasitas 1200 liter.

“Nanti, mobil tangki datang tinggal mengisi ke tandon. Masyarakat tinggal mengambil di tandon. Kami jamin, tidak sampai ada ribut-ribut karena rebutan air,” katanya.

Kepala BPBD Banjar, Sunarto membenarkan mengirimkan satu unit mobil tangki berkapasitas 5000 liter ke Kecamatan Cintapuri. “Mobil sudah meluncur, mungkin agak sore sampai ke daerah krisis air karena jaraknya hampir 80 kilometer,” ujarnya.

Mobil tangki BPBD mengambil air di PDAM Astambul. Setelah sampai dan dibagikan, petugas akan kembali mengambil air di Cintapuri untuk didistribusikan ke desa-desa yang membutuhkan air.

“Saya minta jaminan keamanan, petugas kami yang membagi air ke sana. Khawatirnya, warga rebutan air sehingga timbul ribut-ribut. Makanya kami minta jaminan camat untuk mengamankan distribusi air,” cetusnya.

Dampak kemarau panjang dirasakan sedikitnya tiga kecamatan yakni Tatah Makmur, Aluhaluh dan Cintapuri. Untuk Tatah Makmur, camat setempat telah lebih dahulu mengajukan usulan bantuan air dan sudah sejak dua bulan lalu dikirim.

Camat Cintapuri Darussalam Suyitno menjamin untuk pendistribusian air tidak sampai menimbulkan ribut-ribut apalagi perkelahiran. Disebutkan dia, dahulu ribut-ribut karena BPBD mengirimkan air ke daerah yang terjauh dahulu sehingga warga yang dilewati marah.

“Kalau ini tidak lah. Kita sudah atur distribusinya ke desa terdekat dulu,” Suyitno yang mengaku kesal permintaan air warga begitu lamban ditindaklanjuti BPBD.

Kadistamben Banjar Ir Mursal mengatakan, pihaknya tahun 2014 sudah melakukan survei geolistrik pada enam desa di dataran bawah di Kecamatan Cintapuri — Cintapuri, Sindang Jaya, Karya Makmur, Makmur Karya, Alalak Padang serta Sumber Sari– yang selalu kesulitan air saat kemarau.

Dari enam desa itu hanya di Desa Karya Makmur berpotensi ditemukan sumber air. “Itupun, kedalaman sumur bor mencapai hingga 100 meter,” katanya.

Tahun 2014 ini Pemkab Banjar mendapat bantuan program sumur bor sebanyak satu unit dari Badan Geologi Pusat Sumber Daya Air Tanah dan Geologi Lingkungan di Desa Banua Anyar.

“Sudah selesai sumur bor itu dibangun. Saat ini, masih diujicoba debit dan kualitas airnya. Sedangkan untuk di Karya Makmur kita programkan ke depan untuk membangun sumur bor di sana,” terang Mursal.

Terkait kekeringan di Dusun Garis Binuang, Kadinas Pertanian, Perkebunan dan Perternakan (Distabunak) mengakui, kekeringan berdampak rusaknya padi yang ditanam petani. Pihaknya masih menunggu laporan petugas di lapangan guna memastikan dampak perubahan iklim yang merusak padi petani. Ada sebanyak 6 ton benih padi untuk luasan 400 hektare.

“Kita tunggu laporan petugas di lapangan seberapa luas padi yang terdampak, selanjutnya kita berikan bantuan padi,” imbuhnya.

Mata air kering

Kekeringan juga menyebabkan sumber mata air di Bukit Pendamaran, menyebabkan puluhan KK yang mendiami Desa Kiram, kelimpungan. Air mengalir hanya pada malam hari, itupun volume sangat kecil.

Warga terpaksa harus begadang menunggu tetesan air yang ditampung di folder air. Warga pun harus berebut untuk mendapatkan air dari dalam folder yang terisi hanya sekitar lima sentimeter saja. Sementara tinggi tempat penampungan air 3 meter lebih.

“Air di folder itu hanya cukup untuk 3 KK. Malam hari air mengalir seperti air kencing,” ungkap Saipul (34), warga Desa Kiram.

Semula dia mencurigai kebocoran pada bocor atau sengaja di sabotase orang. Ternyata setelah dicek ke sumber mata air di lereng gunung berjarak sekitar 700 meter, memang kering.

“Memang kondisi mata air di Bukit Pendamaran, kering. Pastas saja penampungan di desa kami tak ada airnya,” ucap Syaiful.

Hasbullah, mantan Kades Kiram sangat prihatin dengan kondisi alam yang terjadi. “Kemarau tahun ini membuat sumber mata air kering,” ujarnya.

Karena kerisis air bersih, warga terpaksa harus mengirit air untuk masak. “Jangankan masak, mandi hanya sekali saja sehari. Bahkan, ada yang tak mandi,” ujarnya.

Disebutkan dia, sumur-sumur warga sudah kering-kerontang. Warga terpaksa mengambil air ke Sungai Riam yang jaraknya 7 kilometer. Kondisi kekeringan mata air di Bukit Damar tidak dibantah Kabid Pengawasan Tahura Sultan Adham, Alip Winarto Harsono. “Apa yang dikata warga itu benar,” jelas Alip.

Menurut dia, kekeringan juga terjadi di lokasi Tahuran Sultan Adam. “Kering memang kondisi alamnya,” beber Alip Winarto Harsono.

Sumber: Banjarmasin Post edisi cetak Selasa (7/10/2014) atau klik http://epaper.banjarmasinpost.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s