Perjalanan Panjang nan Menegangkan

BANJARMASINPOST, SELAMA dua hari, Napak Tilas Tumbang Anoi digelar. Ini sebagai rangkaian kegiatan Pumpung Hai atau pertemuan besar para tokoh Dayak. Banyak kisah yang bisa dijadikan catatan. Berikut Wartawan BPost Mustain Khaitami menulisnya dalam dua edisi.

JALAN menuju Desa Tumbang Anoi

JALAN menuju Desa Tumbang Anoi

Mendengar nama Tumbang Anoi disebut, bayangan pertama kali muncul di benak adalah tentang Suku Dayak dan rumah panjang bertiang tinggi yang dikenal sebagai Rumah Betang. Itu wajar, karena pada 120 tahun silam tempat ini menjadi saksi dari sebuah pertemuan besar dan dicatat dalam sejarah kehidupan warga asli di Borneo.

Secara administratif, Tumbang Anoi merupakan sebuah desa di Kecamatan Damang Batu, Gunungmas. Alamnya masih asri dengan keberadaan pepohonan besar mengitari. Kehidupan masyarakat setempat juga bersahaja dan sebagian besar menempati rumah di tepi bagian hulu Sungai Kahayan, yang mengalir hingga Palangkaraya dan Pulangpisau.

Untuk mencapai desa tersebut, diperlukan waktu perjalanan darat sekitar tujuh jam dari Kota Palangkaraya. Awalnya jalan aspal mulus, tapi beberapa lama setelah melewati ibukota Kecamatan Tewah, perjuangan baru terasa.

Ini disebabkan, jalan masih berupa tanah kuning berbatu. Puluhan tanjakan dan turunan berkelok harus dilintasi dengan jurang di tepinya. Kondisi ini sewaktu-waktu bisa mencelakakan kendaraan yang melintasinya.

Pada musim penghujan, jalan itu berubah menjadi licin. “Kalau sudah begitu, biasanya mobil yang beriringan harus bergantian melewati tanjakan tinggi. Khawatirnya jika tak mampu naik, justru akan turun dan menabrak yang di belakangnya,” tutur Heriyanto, warga Tewah.

Ketegangan tidak hanya di situ. Kerikil yang terhampar pada hampir sepanjang jalan bertanah, membuat ban kendaraan sulit berhenti mendadak. Rombongan kendaraan yang berbaris pun harus menjaga jarak yang cukup jauh untuk menghindari kecelakaan.

“Jalan ini tembus ke Tumbang Samba, Katingan. Jika kita berjalan kaki melewati pegunungan, akan langsung tembus ke Kalbar,” sebut Heriyanto.

Napak tilas Tumbang Anoi sendiri pada dasarnya merupakan sebuah kegiatan yang dimaksudkan mengenang kembali lahirnya sebuah kesepakatan damai. Sekitar seribu orang dari 152 suku hadir di Tumbang Anoi mengikuti rapat yang berlangsung selama 2 bulan sejak 22 Mei hingga 24 Juli 1894 itu. Mereka terdiri atas para kepala suku Dayak dan sejumlah pejabat Kolonial Belanda wilayah Borneo.

Sebagai tuan rumah, Damang Batu perlu waktu lima bulan untuk mempersiapkan pertemuan besar yang dimaksud. Apalagi para tamu yang datang berasal dari berbagai penjuru Pulau Kalimantan, bahkan hingga Serawak, Malaysia.

Hasilnya ada sembilan kesepakatan damai yang diputuskan, antara lain menyangkut penghentian asang-maasang (perang antarsuku, orang banyak melawan orang banyak), bunu-habunu (beberapa orang tertentu membunuh orang-orang tertentu yang bersifat balas dendam), kayau-mangayau (kebiasaan memburu manusia, memotong kepala untuk koleksi pribadi selaku bukti kepahlawanan), jipen-hajipen dan najuai jipen (perbudakan dan jual beli budak) sesuai penetapan UU Belanda.

“Tidak terbayangkan, bagaimana dengan para kepala suku datang dan bisa berkumpul di Tumbang Anoi agar bisa hadir dalam kerapatan pada 120 tahun lalu. Apalagi dulu tentu belum ada jalan darat, karena hanya lewat air sungai yang deras,” kata Barlianto, anggota DAD Asal Kapuas.

Sebagai seorang warga Dayak yang seringkali mendengar tentang hasil rapat Tumbang Anoi, dia mengaku napak tilas ini sebagai penambah semangat. Itu pula Barlianto beralasan, seorang Damang Batu patut mendapat penghargaan sebagai Tumenggung karena keberhasilannya menyatukan warga Dayak di Pulau Borneo 1894 silam. (*)

Sumber: Banjarmasin Post edisi cetak Selasa (7/10/2014) atau klik http://epaper.banjarmasinpost.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s