Masihkah Kita Peduli

TERNYATA hidup di ibu kota provinsi, Banjarmasin, tidak menjamin keterlayanan warganya dalam hal kesehatan. Buktinya, Rusdahniar, perempuan 20 tahun, sejak kecil terserang deman secara berulang dan usia tiga tahun, divonis polio sampai sekarang.

Karena tergolong dari keluarga miskin, Rusdahniar hanya bisa berbaring di tengah rumah yang didiami keluarga Ruslan-Jawiyah di Jalan Teluk Kelayan Gang Sedatu No 35 RT 5 RW 2 Kelurahan Kelayan Barat, Kecamatan Banjarmasin Selatan (Banjarmasin Post, 28/1/2012).Jawiyah, sang ibu sangat sabar mengurus anak sulungnya itu, bahkan sambil melakoni pekerjaan sehari-hari sebagai penjual bawang di Pasar Pekauman, Banjarmasin Selatan, juga mengasuh si bungsu, Muhammad Zainal yang berumur 1,3 tahun.

Inilah satu potret kehidupan di sudut ibu kota provinsi Kalsel, jadi problem pembangunan bidang kesehatan yang menyelimuti warga dan Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin. Padahal, setiap kesempatan evaluasi pembangunan tingkat kesehatan masyarakat terus membaik.

Ironis, penderitaan Rusdahniar yang berasal dari keluarga kurang beruntung segi finansial ini, jadi terabaikan oleh semua. Beruntung, pertemuan Forum Kerukunan Umat Beragama Kota Banjarmasin di Pekauman, berencana membantu warga Teluk Kelayan itu.

Seperti dikutip Ketua FKUB Kota Banjarmasin, Prof HM Ma’ruf Abdullah, semua agama mengajarkan kepedulian dan melalui pertemuan rutin tokoh agama serta tokoh masyarakat, semua bisa membantu orang yang sangat memerlukan.

Atas dasar fakta dan realita demikian, siapa yang tidak tersentuh nurani dan kepeduliannya. Bahkan kelompok (suku, agama, ras dan antargolongan) yang berbeda-beda di masyarakat, bukanlah jadi sekat atau penghalang untuk berbuat sesuatu.

Karena memiliki kesamaan membina kehidupan dan kemasyarakatan, sehingga diharapkan dapat mempersatukan dalam bingkai kebersamaan untuk membantu warga yang kurang beruntung segi finansial, terutama meringankan beban dan penderitaan sesama warga dan anak bangsa.

Rusdahniar, satu dari sekian anak yang tidak tersentuh kemudahan untuk mendapatkan layanan kesehatan, apalagi penderitaan anak yang tidak sesuai pertumbuhan fisik dengan usianya itu, mengetuk nurani sekelompok orang yang berempati.

Setelah diekspose oleh FKUB Kota Banjarmasin berkeinginan membantu penderita itu, direspon Kadinkes Kota Banjarmasin Diah R Praswasti. Pihaknya langsung mengerahkan Tim Surveilance Dinkes Kota Banjarmasin dan Puskesmas, menemui keluarga tersebut.

Demikian pula ketika pengurus FKUB Kota Banjarmasin melakukan lawatan ke Rumah Sakit Suaka Insan Banjarmasin, langkah untuk membantu Rusdahniar disambut Dirut RS Suaka Insan, dr AJ Djohan, tinggal berkoordinasi dengan pihak terkait.

Sudahkah cukup dukungan, akan memberi bantuan atau ingin meringankan penderitaan keluarga Ruslan-Jawiyah, warga Teluk Kelayan Gang Sedatu No 35 RT 5 RW 2 Kelayan Barat itu, yang ternyata kedua anaknya (sulung dan bungsu) menderita lumpuh layu?

Dalam tataran aksi, barangkali yang diinginkan adalah sinergi antara pemangku kebijakan dengan warga yang berempati. Sekali lagi, sebuah gerakan untuk bersama-sama mewujudkan pemerataan layanan kesehatan dan kehidupan yang lebih baik. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s