Uji Coba Bukan Beban

Mulai kemarin hingga Rabu (8/2), siswa SMA/MA/SMK di Kalimantan Selatan mengikuti try out (uji coba) Ujian Nasional tahun ajaran 2011/2012 .

Walau nilai UN bukan lagi satu-satunya penentu kelulusan siswa, namun mereka serius mengikuti. Maklum saja, ujian akhir masih menjadi momok bagi siswa. Tak heran bila berbagai persiapan terus dilakukan sekolah maupun dinas pendidikan, agar siswa siap menghadapi UN.Di tengah sejumlah persiapan siswa menghadapi UN tersebut, sekolah perlu memikirkan beban dan rangkaian persiapan bagi siswa dalam mengejar penguasaan materi.

Karena di satu sisi, uji coba bisa menjadi sarana latihan bagi siswa menghadapi UN April mendatang. Dalam try out siswa memiliki kesempatan mengenal pola ujian serta mengulang materi mereka sejak kelas X.

Secara psikologis siswa juga bisa mengenal suasana ujian sehingga mental mereka siap ketika menghadapi UN mendatang. Paling tidak, bisa menjadi ajang evaluasi baik bagi siswa maupun sekolah, materi-materi apa saja yang masih kurang dikuasai saat ujian.

Hasil try out Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Banjarmasin akhir Januari silam juga patut menjadi acuan dalam menggenjot prestasi siswa.

Di luar dugaan, siswa Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) hanya lulus 29,4 persen. Sedangkan dari jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhasil lulus 54 persen.

Angka kelulusan ini di luar persepsi selama ini, bahwa siswa IPS lebih mudah lulus dari pada siswa IPA. Bahkan, sekolah selama ini lebih berkonsentrasi pada pengayaan materi siswa IPA. Persepsi ini sudah saatnya diubah.

Disamping aspek positif dari try out, di sisi lain harus diperhatikan beban bagi siswa agar nantinya tidak menjadi antiklimaks.

Karena, sebagaimana di Banjarmasin, pada Januari siswa sudah mengikuti try out UN. Dan kemarin, atau dua minggu kemudian, mengikuti lagi try out yang diadakan Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel.

Tentunya ujian yang berturut-turut ini bukan perkara mudah bagi siswa. Karena mereka setiap hari sudah menanggung beban untuk belajar yang sedemikian berat.

Apalagi nanti masih ditambah lagi dengan try out ketiga yang digelar masing-masing sekolah (mandiri), bulan depan.

Serangkaian ujian selama tiga bulan berturut-turut hingga puncaknya April mendatang jangan sampai membuat siswa ‘kehabisan energi’. Bak sebuah pertandingan, try out sebagai ajang latihan, harus menunjukan kisi-kisi yang akurat bagi siswa agar bisa mengalahkan musuh.

Toh, hasil UN tahun lalu ternyata siswa dari sekolah di daerah yang hanya dua kali menggelar try out justru memeroleh nilai rata-rata lebih tinggi.

Hal ini juga patut diperhatikan. Sudah berulangkali muncul pemberitaan mengenai siswa berprestasi yang tiba-tiba nilai UN-nya anjlok, atau bahkan tak lulus. Atau siswa yang selalu menduduki rangking atas tapi terpuruk dalam UN.

Salah satu penyebab yang selama ini muncul bukan karena persiapan belajar yang kurang, tapi justru tidak adanya kesiapan fisik. Secara emosional tenaga mereka sudah terkuras sepanjang dua bulan terakhir hanya untuk menghadapi try out.

Persiapan UN bukan semata urusan siswa dan sekolah juga menjadi tanggung jawab orangtua. Faktor di dalam rumah juga mesti diperhatikan, agar tidak menjadi beban tambahan.

Kini saatnya mereka berkonsentrasi pada UN. Hindari kegiatan nonakademis di luar yang justru menguras tenaga dan konsentrasi, serta tetap harus menjaga kondisi fisik. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s