Bus Trans Banua, Sebuah Impian?

Setiap kali ada tamu berkunjung ke Kota Banjarmasin mereka terheran-heran, karena di kawasan penghasil batu bara ini, transportasi publiknya masih terbilang terbatas.

Oleh : Oscar Yogi Yustiano*

Di Bandara Syamsudin Noor, misalnya, hanya tersedia satu alat tranportasi, yakni taksi bandara. Padahal, arus penumpang di bandara cukup padat. Apalagi menjelang weekend atau liburan sekolah. Tak jarang, karena kekurangan taksi, satu armada diisi dua penumpang.

Demikian halnya dengan angkutan umum perkotaan yang masih sangat minim baik di dalam kuantitas maupun kualitasnya. Hal ini seharusnya menjadi peluang bagi Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin untuk merintis bus laiknya bus Trans Jakarta atau Trans Yogya (Yogyakarta).

Hal ini memungkinkan karena kondisi traffict di Banjarmasin belum padat laiknya Jakarta. Baik dari jumlah kendaraan pribadi maupun kendaraan umum, karena hal ini dapat menjadi solusi jangka panjang untuk menciptakan penataan transportasi terintegrasi.Trans Jakarta dan Yogya

Pada awal pelaksanaannya, bus Trans Jakarta menimbulkan pro dan kontra, mulai dari keberadaan jalur khusus bus way yang menyebabkan jalanan semakin macet dan kondisi shelter yang rapuh dan tidak terawat.

Namun, lambat laun hal ini dapat berkurang karena Pemerintah Kota DKI Jakarta konsisten di dalam menyelenggarakan bus Trans Jakarta semakin banyak orang yang mulai merasakan manfaatnya yakni kondisi bus yang nyaman dan bebas macet serta dapat mengurangi polusi udara.

Tak pelak, Pemda Jakarta kelabakan karena membludaknya pengguna bus Trans Jakarta, sehingga terus menambah shelter dan rute-rute baru.

Demikian halnya dengan Trans Yogya, moda transportasi ini hampir sama dengan Trans Jakarta, namun dengan moda yang lebih kecil (minibus) dan tidak memiliki jalur khusus. Namun demikian, moda ini cukup nyaman dan banyak digemari.

Beberapa kali menaiki moda ini dapat merasakan perbedaan dengan angkutan lainnya, mulai dari kondisi bus yang lebih bersih dan sejuk karena terdapat fasilitas AC sampai harga yang terjangkau.

Disamping itu, informasi tentang biaya tiket, rute dan keberadaan shelter cukup jelas sehingga sangat membantu penumpang untuk menentukan arah dan tujuan.

Dan yang paling penting adalah moda ini terintegrasi dengan moda lainnya. Misalnya, shelter Trans Yogya dibangun berdekatan bandara dan stasiun kereta, sehingga penumpang pesawat atau kereta api jika hendak ke kota dapat langsung mengunakan moda Trans Yogya.

Keberhasilan bus pun mulai dicontoh oleh Kota Semarang maupun kota-kota lainnya di Indonesia

Keberadaan shelter/halte sebenarnya tidak hanya berfungsi untuk menunggu bus dan membeli tiket, akan tetapi memiliki peran yang besar untuk merubah prilaku yang tidak disiplin menjadi disiplin.

Pasalnya ketika belum ada shelter penumpang enggan menunggu di halte melainkan naik disembarang tempat sehingga dapat mengganggu pengguna lainya. Kini, mereka ‘terpaksa’ naik di shelter karena bus hanya mau berhenti di sini. Demikian halnya dengan pengemudi bus.

Sebuah Mimpi?

Dalam mewujudkan bus Trans Banua (misalnya) tidak perlu menunggu Kota Banjarmasin (Banua) macet dan semrawut, melainkan saat ini adalah kesempatan melakukan penataan moda transportasi di Banjarmasin.

Pertama, pemko perlu mulai melakukan kajian untuk memetakan titik-titik pembangunan shelter dan rute-rute disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Misalnya, untuk awalan dengan rute dari Bandara Syamsudin Noor-Trisakti.

Rute ini akan mengakomodir calon penumpang yang berasal dari pesawat maupun kapal laut serta penumpang di dalam kota. Sedangkan, untuk shelter dapat dibangun di titik-titik keramaian seperti bandara, mal, pasar, terminal, perkantoran, tempat ibadah, tempat wisata, rumah sakit, hotel, dan pelabuhan.

Kedua, perlu melakukan kajian untuk pengadaan bus dan metode pemeliharaan yang tepat, karena permasalahan klasik yang terjadi di Indonesia adalah dapat membeli moda transportasi tapi tidak dapat memelihara, sehingga merugikan para penumpang.

Misalnya, bus mogok sampai terbakar.

Ketiga, perlu dilakukan kajian untuk moda transportasi pendukung menuju ke shelter-shelter bus Trans Banua. Misalnya, jembatan penyeberangan, angkutan umum dan bus air ataupun kereta api (jika ada rencana mengembangkan kereta api).

Keempat, mulai menjajaki mendirikan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) khusus untuk mengelola bus Trans Banua dan mencari investor untuk mendukung pelaksanaan pembangunan dan pengoperasiannya.

Hal ini penting untuk menciptakan sinergi dengan angkutan umum yang telah ada sebelumnya. Jadi bukanlah mimpi untuk mewujudkan moda transportasi yang aman, nyaman, bersih, sejuk dan terintegrasi?

Penulis, Supervisor Properti dan Bina Pelanggan PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) Cabang Banjarmasin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s