Narkoba dan Kultur Korup

PUBLIK kembali dikejutkan oleh berita penangkapan seorang pilot pengguna narkotika. Pilot sipil ini diciduk tiga jam sebelum menerbangkan pesawatnya. Aparat dari Badan Narkotika Nasional menyita sejumput barang bukti. Tes urine juga menunjukkan pilot ini positif mengonsumsi narkotika.

Penangkapan terjadi di sebuah hotel di Surabaya, tempat rehat pilot ini bersama sejawatnya sebelum menerbangkan pesawat ke Makassar dan Balikpapan. Belum sebulan berselang, seorang pilot dari maskapai penerbangan yang sama ditangkap di Makassar, juga kerena kasus narkotika.

Insiden ini menambah panjang daftar pilot penerbangan sipil yang terjerat kasus narkotika dan obat berbahaya. Agustus silam sejawat dua pilot ini ditangkap di sebuah tempat di Tangerang, juga karena mengonsumsi narkotika.

Pihak berwenang menyebutkan, tiga penerbang ini hanya sebagian di antara sejumlah penerbang sipil lain yang diduga kuat pecandu narkoba. Bahkan, seorang aparat dengan yakin menyatakan akan ada penangkapan-penangkapan lain atas para pilot pemakai narkoba, menyusul keterangan dan kesaksian- kesaksian dari ketiga pilot yang diciduk ini.

Masyarakat tentu saja tidak hanya terkejut oleh kabar ini, melainkan sekaligus khawatir, tidak tenang, waswas, karena keamanan dan keselamatan terbang mereka ternyata dipertaruhkan pada orang yang mungkin saja pada saat tertentu sedang –atau masih– di bawah pengaruh narkotika.

Padahal penerbangan di mana pun di seluruh dunia menentukan dan menuntut standar tinggi atas keamanan dan keselamatan. Persoalannya tidak semata karena keselamatan diri sang pilot, melainkan sekian ratus penumpang dan pihak lain yuang bisa saja terkena dampaknya.

Insiden penangkapan ini memperkuat kenyataan bahwa narkotika sudah sedemikian merasuki orang-orang dari berbagai usia dan tingkatan. Dari berbagai profesi dan pekerjaan.

Gambaran sederhana yang disampaikan petinggi polisi menunjukkan bagaimana fantastisnya dana yang berputar dalam bisnis ilegal ini. Untuk satu jenis saja, sabu misalnya, di Iran, setara dengan Rp 100 juta. Saat barang ini masuk Malaysia, harganya berlipat tiga jadi sekitar Rp 300 juta. Tiba Indonesia, barang yang sama dengan berat sama bisa mencapai Rp 2 miliar.

Badan Narkotika Nasional melaporkan perkiraannya, pada 2010 sekitar 2,21 dari populasi penduduk atau sekitar 4,2 juta orang merupakan penyalahguna narkoba. Tahun 2011 meningkat jadi 2,8 persen atau sekitar 5 juta orang. Perkiraan ini tentu didasarkan pada kasus-kasus yang terungkap saja.

Atas dasar jumlah ini dan melihat pola kecenderungan para pemakai maupaun pecandu, masuk akal jika ada yang mengatakan bahwa dana yang berputar dalam bisnis ini mencapai triliunan rupiah. Hasil penelitian bersama Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia menunjukkan, tahun 2004 saja biaya untuk konsumsi narkoba di Indonesia mencapai sekitar Rp 23,6 triliun.

Pada 2009, biaya yang dihabiskan bisa melonjak menjadi sekitar Rp 46,5 triliun. Selama lima tahun (2004-2009) akumulasi biaya yang berputar dihabiskan untuk mengonsumi narkoba ini diperkirakan mencapai Rp 207 triliun!!

Hal inilah yang oleh banyak pihak diyakini sebagai penyebab mengapa perang terhadap candu ini tak pernah tuntas.

Aparat terlibat? Namanya juga negeri dongeng. Di Jakarta, pernah terjadi polisi baku tembak dengan teman sendiri ketika menggerebek transaksi narkotika di sebuah hotel. Di tempat lain, anggota DPRD digelandang polisi karena terlibat bisnis narkoba. Di tempat lain lagi, seorang pengacara diciduk. Di Kalsel, pernah ada Wakil Kepala Polres yang yang terlibat dalam bisnis yang seharusnya ditertibkannya itu.

Pertanyaannya, bagaimana hukum bisa tegak jika aparat penegaknya terlibat sejak dalam tindak pidananya?

Jika terhadap teroris, perang bisa dilakukan dan banyak berhasil, mengapa tidak terhadap narkoba? Padahal, bahaya yang ditimbulkannya jauh lebih serius. Ini tentu saja terkait dengan kultur korup yang sudah mencengkeram demikian dalam.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s