Distorsi Moral di Unlam

UNIVERSITAS Lambung Mangkurat kembali diterpa isu tak sedap. Perguruan tinggi pelat merah di Kalimantan Selatan, ini kabarnya terbelit kasus korupsi bernilai puluhan miliar rupiah. Aparat Kejaksaan Negeri Banjarmasin sibuk menelisik kasus korupsi yang terjadi di sejumlah fakultas tersebut.

Kabar miring yang terjadi di Unlam ini, tentunya membuat kita kembali mengurut dada. Betapa tidak, dalam kurun waktu sepekan terakhir, berita tidak sedap menyeret-nyeret nama Unlam dalam hal ketidakberesan masalah keuangan. Pekan lalu, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) merilis adanya peredaran rekening liar di lingkungan perguruan tinggi kebanggaan kita ini. Dan, kini skandal gajah penyalahgunaan anggaran tiba-tiba menyeruak ke permukaan.

Dan, seperti yang diwartakan, untuk kasus terakhir, kejaksaan mengendus adanya dugaan korupsi lumayan besar di Unlam nilainya Rp 70 miliar. Penyelewengan terjadi pada sejumlah proyek pengadaan barang untuk laboratorium di Fakultas MIPA, Fakultas Kedokteran dan Fakultas Teknik. Kita tentu hanya bisa geleng-geleng kepala, kalau memang benar dana puluhan miliar itu menjadi ‘bancakan’ oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab di internal Unlam.

Karena kasusnya masih penelisikan, kejaksaan pun belum berani memastikan adanya tindak pidana korupsi dalam pengadaan proyek di tiga fakultas eksak di Unlam tersebut. Dan, seperti pengalaman selama ini, tipikal kejaksaan bukan seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang bekerja cepat dan terukur. Meski begitu, kita berharap Kejaksaan Negeri Banjarmasin dalam menangani kasus dugaan penyelewengan di Unlam belajar dari cara kerja KPK yang sistematis dan terukur.

Publik tentu ingin mengetahui kebenaran formal ada tidaknya tindak pidana korupsi dalam proyek pengadaan barang untuk tiga fakultas di Unlam yang nilainya cukup besar itu. Apalagi, kita ketahui dana untuk pengadaan barang itu bersumber dari APBN yang tentunya berasal dari uang rakyat. Di sinilah kejaksaan dituntut bekerja tidak ‘setengah hati’ dalam menangani kasus tersebut. Kita tidak menginginkan kasus Unlam berlarut-larut, dan mengendap di laci jaksa tanpa ada kejelasan formal.

Bukan rahasia umum kalau proyek pengadaan barang di berbagai institusi pemerintah selalu menjadi ajang korupsi pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Tengok saja, proyek renovasi ruang Badan Anggaran DPR yang memicu kontroversi. Dan, belakangan terungkap anggaran Rp 20 miliar itu sangat tidak rasional dan beraroma penyelewengan.

Nah, tentu bukan tidak mungkin –meski baru sebatas dugaan– proyek pengadaan barang tiga fakultas di Unlam pun berindikasi ke arah tindak pidana korupsi. Pasalnya, hampir semua item barang untuk laboratorium itu adalah produk dari luar. Kita tentu bertanya-tanya apakah benar barang-barang itu harus didatangkan dari luar, dan tidak ada diproduksi di dalam negeri.

Kalau itu ukurannya, tentu sangatlah naif pemikiran para petinggi di Unlam yang ternyata masih berorientasi pada produk luar.

Sekali lagi, kita tidak menginginkan kasus di DPR –yang akhirnya menelanjangi kekonyolan oknum-oknum di dewan– terjadi di Unlam. Kasus gajah di Unlam kini menjadi perhatian publik di daerah ini. Masyarakat tidak tidak bisa menerima lembaga pendidik calon intelektual seperti Unlam dijadikan proyek jarahan oleh prilaku-prilaku jahat di dalamnya.

Kita yakin para founding father Unlam tentu prihatin dan kecewa dengan kondisi perguruan tinggi tertua di Kalimantan itu. Betapa tidak, Unlam kini telah terdistorsi oleh tangan-tangan jahat yang tidak lagi mengedepankan misi suci pendidikan. Unlam telah dimanfaatkan oleh pribadi- pribadi yang tidak bertangung jawan untuk mencari keuntungan secara tidak sehat.

Sudah saatnya bagi pemilik otoritas di Unlam saat ini mengevaluasi dan membenahi institusi pendidikan yang dipimpinnya. Berbagai kasus yang terjadi di Unlam adalah fakta ketidakberesan sekaligus pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Kalau memang terbukti di internal Unlam ada pribadi-pribadi yang menyimpang dari koridor hukum, sudah sepatutnya diambil tindakan tegas. Unlam tidak membutuhkan tenaga terdidik yang seperti itu, tapi tenaga yang memiliki moral tinggi untuk tidak berbuat jahat terhadap institusinya sendiri. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s