Seharusnya Sesuai Fakta Hukum

 

  • Afriyani Dikenakan Pasal Pembunuhan

JAKARTA, BPOST – Pro dan kontra terkait penerapan pasal pembunuhan terhadap Afriyani Susanti (29), pengemudi Daihatsu Xenia yang terlibat kecelakaan maut di Tugu Tani, Jakarta Pusat, akhirnya terjawab.

Penyidik Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya akhirnya menetapkan Pasal 338 KUHP tentang Penghilangan Nyawa secara Sengaja terhadap Afriyani.

“Jadi Afriyani disangkakan Pasal 310 dan 311 Undang Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, dan 338 KUHP tentang Pembunuhan. Untuk Pasal 338 ancaman hukuman maksimalnya selama 15 tahun,” ujar Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto, Selasa (31/1).Menurut Rikwanto, pasal itu diterapkan setelah polisi menggali keterangan-keterangan saksi yang ada dan kronologi kejadian.

Kepolisian juga sudah meminta pertimbangan hukum kepada para pakar hukum pidana.

Menurut Rikwanto, apabila ada pro dan kontra mengenai penerapan pasal pembunuhan, akan dibuktikan di dalam persidangan, dan biar hakim yang memutuskan.

Alasan diterapkannya pasal pembunuhan berdasarkan unsur yang digali dari saksi yang ada, dari kronologi kejadian dan hal-hal itu yang memungkinkan diterapkan pasal tersebut.

Kuasa hukum Afriyani, Efrizal, saat dihubungi mengaku belum mengetahui jika kliennya disangkakan dengan Pasal 338 KUHP. “Saya belum dapat informasi, BAP saja belum selesai,” kata Efrizal.

Afriyani sudah ditetapkan sebagai tersangka utama dalam kecelakaan maut ini. Dia dinyatakan terbukti berkendara tanpa membawa STNK, tak memiliki SIM, merusak fasilitas umum, dan menghilangkan nyawa manusia.

Ibunda Afriyani, Hj Yurnely (51), sudah meminta maaf kepada keluarga korban. Selain itu, keluarga Afriyani juga berjanji akan memberi dana santunan kepada keluarga korban.

Menanggapi sangkaan melanggar pasal 338 KUHP terhadap Afriayani, Pakar Hukum Pidana, Helmi, berharap haruslah sesuai fakta hukumnya.

Mengutip isi Pasal 338 KUHP, menurutnya, disebutkan pembunuhan dilakukan karena ada unsur kesengajaan dan pelaku menginginkan hilangnya nyawa seseorang.

Dan jika kasus Afriyani dikaitkan dengan pasal ini, menurut Dekan Fakultas Hukum Unlam ini, setidaknya ada bukti yang sesuai dengan pasal 338 KUHP itu sendiri.

“Kalau fakta hukum menunjukkan dia sengaja dan juga memang menginginkan bahwa orang yang ditabraknya itu mati, maka sepatutnya dia dikenakan pasal 338 KUHP. Tapi kalau tidak ditemukan, tentu tidak bisa dikenakan dengan pasal ini,” katanya.

Menurut analisa Helmi, keterangan yang menyebutkan Afriyani mengemudi di bawah pengaruh narkoba justru melemahkan untuk dikenakannya Pasal 338 KUHP itu.

“Dengan kondisi di bawah pengaruh narkoba, dia tentu kurang konsentrasi dan lebih cenderung melakukan kelalaian,” jelasnya.

Akibat kelalaian yang dilakukan oleh Apriani tersebut, menurut Helmi lebih mengacu kepada UU Lalu Lintas yang di dalamnya ada pasal yang mengatur lebih rinci tentang mengemudikan kendaraan bermotor dengan lalai, sehingga menyebabkan hilangnyanyawa orang lain.

Untuk itulah terang Helmi, apabila memang benar ingin mengaitkan Afriyani dengan Pasal 338 KUHP, penyidik harus bisa menemukan fakta hukum yang setidaknya memenuhi unsur kesengajaan dan menginginkan hilangnya nyawa orang yang ditabraknya. (ran/kps/vvn)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s