Berebut Kepeloporan Revolusi Arab

Oleh: Dr Ibnu Burdah MA

Secara mental, revolusi rakyat di negara-negara Arab telah memperoleh kemenangan. Tiga rezim dengan tokoh kuat telah tumbang. Mereka adalah rezim Zainal Abidin di Tunisia, Muhammad Husni Mubarak di Mesir, dan Muammar Qaddafi di Libya.

Sangat mungkin, rezim-rezim kuat lain seperti rezim Ali Abdullah Saleh di Yaman, Basyar Asad di Suriah, dan Raja Abdullah II di Yordania segera menyusul.

Era baru di dunia Arab sudah menjelang, sebuah era yang pondasi-pondasinya dibangun di atas hasil gerakan rakyat yang disebut revolusi. Jika revolusi militer yang menyapu dunia Arab pada 1952 hingga 1969 melahirkan pemimpin besar Arab Jamal Abdul Nashir, dan setelah meninggalnya diperebutkan antara Muammar Qadafi, Hafidh Asad, Anwar Saddad, bahkan Saddam Hussein, maka revolusi militer kali ini tampaknya melahirkan bentuk pemimpin yang berbeda dan juga mulai diperebutkan.

Tunisia, Mesir?

Selama ini, yang dimaksud dengan pemimpin Arab selalu personal, seorang individu yang dipandang menyatukan perasaan bangsa Arab yang terpecah ke dalam lebih dari 20 negara. Mereka adalah pemimpin politik atau tokoh gerakan rakyat.

Sekarang perebutan belum terjadi antarindividu pemimpin negara-negara Arab. Tokoh-tokoh yang lahir masih bereputasi “lokal” negara tertentu. Gelombang revolusi Arab belum atau tidak melahirkan pemimpin besarnya.

Perebutan kepemimpinan yang terjadi sekarang adalah kontestasi antarbangsa. Bangsa-bangsa Arab berebut status kepeloporan dalam proses revolusi, masing-masing mengklaim sebagai penanam saham terbesar bagi kelahiran revolusi yang melanda hampir seluruh negara Arab saat ini.

Opini yang berkembang di Tunisia cenderung berpandangan bahwa rakyat Tunisia adalah pelopor gerakan rakyat untuk perubahan kali ini. Hal ini tentu dapat dipahami sebab gerakan protes pertama kali memang pecah di negeri itu tepatnya di Kota Bouazizi.

Di negeri bantaran Laut Meditarian ini pula, gerakan rakyat pertama kali mampu meruntuhkan rezim diktaktor. Dalam proses pelembagaan hasil-hasil gerakan, Tunisia juga berada di garis paling depan. Pelaksanaan pemilu Majlis Pembuat Konstitusi dan pemilu parlemen yang dipandang berjalan mulus dan jujur baru-baru ini adalah salah satu indikatornya.

Keberhasilan Tunisia memberikan inspirasi bagi  rakyat Arab di negara-negara lain termasuk Mesir, Libya, Yaman dan yang lain untuk melakukan hal serupa. Apalagi, rakyat di negara-negara itu menghadapi tumpukan persoalan yang relatif sama, dan selama ini seolah tidak memiliki jalan pemecahan atas persoalan yang membelit mereka. Gerakan di Tunisia lantas menjadi model bagi gerakan-gerakan rakyat berikutnya.

Hal itu sesungguhnya keluar dari kebiasaan sejarah Arab. Tunisia adalah negara kecil dan kurang diperhitungkan dalam konstalasi negara-negara di kawasan. Negara itu juga tidak memiliki tradisi panjang menjadi pemimpin Arab. Oleh karena itu, bangsa Mesir yang secara tradisi memegang tampuk kepemimpinan Arab berpandangan lain.

Mereka memandang bahwa rakyat Mesir merupakan pelopor gerakan rakyat  kali ini. Mental sebagai bangsa pemimpin di kawasan nampaknya membuat mereka tidak mudah mengakui kenyataan bahwa gerakan yang mereka lakukan bagaimanapun didahului oleh rakyat Tunisia.

Pecahnya revolusi militer tahun 1950an menunjukkan urutan yang sebaliknya yaitu Mesir yang pertama dan Tunisia kedua.

Mereka berpandangan bahwa gerakan rakyat melanda secara massif dan intensif hampir di seluruh negara Arab setelah rakyat Mesir bergerak, mengalami eskalasi yang luar biasa, dan mencapai puncaknya saat Mubarak mundur dari kursi kepresidenan.

Dari jargon, pola perjuangan, dan tujuannya, pengaruh revolusi Mesir memang nampak memberikan pengaruh yang sangat besar. Seolah-olah rakyat Mesir adalah bangsa pertama yang mampu menjatuhkan diktaktor di dunia Arab melalui gerakan rakyat.

Kuatnya pengaruh ini dapat dimengerti sebab posisi Mesir baik secara geografis, politik, dan sosial amat menonjol di kawasan itu. Selama ini, Mesir memang dipandang sebagai “pemimpin” di kawasan.

Kini, dalam proses pelembagaan hasil-hasil gerakan termasuk  pemilu parlemen dan menuju pemilu presiden, perhatian regional dan internasional lebih tertuju kepada Mesir daripada Tunisia. Mesir masih dipandang sebagai model dan rujukan perkembangan sosial dan politik bagi negara-negara Arab lain, bahkan sebagian dunia Islam.

Tak pelak, kendati mereka adalah yang kedua dalam konteks revolusi Arab, mereka tetap memandang dirinya sebagai pelopor sebab pengaruh mereka paling besar terhadap perkembangan kawasan.

Sedangkan di Libya, kendati telah berhasil mengenyahkan Qaddafi dan rezimnya, mereka bergerak dan mencapai keberhasilan itu jauh kemudian. Keberhasilan itupun dicapai berkat dukungan negara-negara Arab lain dan NATO.

Iran?

Di luar negara-negara Arab, bangsa Iran juga berupaya merebut kepeloporan revolusi itu. Mereka berupaya meyakinkan semua orang bahwa revolusi yang melanda dunia Arab merupakan anak kandung revolusi Islam Iran 1979. Karena itu, mereka menyebutnya dengan al-shahwah al-Islamiyyah, gerakan kebangkitan Islam, bukan revolusi Arab.

Tipe keduanya memang memiliki kesamaan yakni gerakan rakyat dan melawan kediktatoran yang sebagian ditopang rezim militer dan Amerika Serikat. Namun demikian, upaya itu nampaknya sulit menjadi kenyataan sebab kebanyakan rakyat Arab, sekalipun diam-diam mengagumi revolusi Iran, memendam perasaan tidak “nyaman” terhadap Iran yang Syiah.

Faktanya, setelah lebih 30 tahun Iran mendukung gerakan perlawanan di negara-negara Arab tak satupun rezim despotis Arab yang tumbang.

Penulis, Dosen UIN Sunan kalijaga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s