Selesaikan Sumber Masalahnya

SEPEKAN lalu, mobil Daihatsu Xenia hitam yang dikemudikan Afriani Susanti menabrak 12 orang pejalan kaki di Jalan MI Ridwan Rais, Tugu Tani, Gambir, Jakarta Pusat, pekan silam.

Akibatnya sembilan orang tewas. Afriani sendiri menuai hujatan dan banyak orang berharap agar dia mendapat hukuman seberat-beratnya. Bahkan, ada yang mengusulkan agar dia diganjar hukuman mati.

Hujatan dan makian tersebut diterima Afriani, karena berdasar hasil pemeriksaan urine dan darahnya, perempuan tersebut diketahui dalam kondisi mabuk alkohol, ekstasi, sabu, dan ganja, saat mengemudikan mobil.

Selain itu, dia diketahui tidak memiliki surat izin mengemudi (SIM) dan mobil yang dikemudikannya tidak dilengkapi surat menyurat seperti surat tanda kendaraan bermotor. Malah disinyalir kalau mobil tersebut bodong dan diduga merupakan hasil pencurian.

Namun penanganan kasusnya jangan terpaku pada si Afriani yang mabuk saat mengemudikan mobil bodong tanpa ada izin, dan menabrak orang. Pihak berwenang tentu harus melihat pangkal masalahnya.

Tentu harus ada ketegasan mengenai peredaran minuman keras, zat psikotropika, narkotika, keberadaan mobil bodong, hingga bebasnya orang mengemudi tanpa memiliki SIM.

Kasus Afriani bisa dijadikan entry point bagi aparat terkait memberantas penyebab kejadian maut di Tugu Tani Jakarta tersebut. Kalau sebelumnya ketersediaan minuman keras diperuntukkan bagi turis asing yang hobi mabuk, sekarang sudah saatnya dilakukan pelarangan.

Seperti di Banjarmasin, peredaran minuman keras bisa mudah ditemui di tempat-tempat khusus karena berlindung pada kebijakan menyediaan minuman beralkohol bagi turis asing. Padahal kenyataannya, sang pengonsumsi adalah para ‘turis domestik’.

Kebijakan tersebut sudah saatnya ditinjau ulang. Paling tidak menutup celah bagi ‘turis lokal’ yang doyan mabuk, agar tidak ikut mengonsumsi minuman keras. Ekstemnya, kalau wajahnya bukan seperti turis asing, dilarang membeli minuman keras.

Begitu pula dengan peredaran zat psikotropika seperti ekstadi dan sabu. Aparat kepolisian harus lebih giat melaksanakan penangkapan terhadap pengedar, bandar, hingga produsen zat psikotropika.

Akhir-akhir ini tak lagi terdengar adanya penangkapan pabrik ekstasi, sabu atau produsen zat adiktif lainnya. Padahal, setiap hari berita di media massa selalu ada penangkapan pengedar ekstadi, sabu atau zat adiktif lainnya.

Penangkapan terhadap para pengedar zat psikotropika, yang pasti jumlahnya bisa dihitung dengan jari, membuktikan masih ada produsen yang belum terendus aparat kepolisian. Apa mungkin penciuman polisi saat ini sudah tidak tajam lagi mengendus para pelaku?

Tentu harus dipahami kalau tugas polisi tak hanya mengendus penjahat, tugas mereka juga menjamin ketertiban. Salah satunya tertibnya pengguna jalan, termasuk pengendara diwajibkan memiliki SIM.

Di Kalsel, sudah biasa kita melihat anak sekolah tak cukup umur menggunakan kendaraan bermotor. Alasan kesibukan membuat orangtua mereka membelikan sepeda motor, agar bisa berangkat dan pulang sekolah sendiri.

Kepemilikan SIM bagi pengendaraan kendaraan bermotor tentu bukan tanpa alasan. Saat berada di jalan, mereka seharusnya mengerti apa hak dan kewajiban pengguna jalan.

Kalau peristiwa seperti di Tugu Tani Jakarta menimpa mereka, siapa yang harus bertanggungjawab? Pengendara, orangtua, atau polisi? Sebelum saling menyalahkan, lebih baik diantisipasi sejak dini. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s