Hakim Perlu Berani Menafsirkan Pasal (Analisis Kasus Sopir Maut Tugu Tani)

Oleh: Mispansyah SH MH

Tragedi Tugu Tani yang menewaskan sembilan orang mengagetkan kita, apalagi sopir Afriyani Susanti, positif  mengonsumsi miras dan Narkoba. Pihak keluarga korban pun berharap perempuan itu dihukum mati.

Keinginan pihak keluarga itu tentu akan ditentukan dua hal yaitu oleh peraturan perundang-undangan yang dikenakan penyidik kepada pelaku.

Dan yang kedua adalah tergantung dari putusan hakim pada proses persidangan, keadilan putusan hakim yang progresif tentu akan kita tunggu. Harapan agar pelaku dihukum berat, agaknya akan terkendala dengan ketentuan pasal yang dipasang penyidik Polda Metro Jaya yang telah mengerahkan penyidik dari Direktorat Narkoba, Direktorat Lalulintas dan Direktorat Reserse Kriminal Umum.

Penyidik agaknya lebih fokus pada Pasal 310 UU LLAJ dan Pasal 359 KUHP yaitu “kelalaian” menyebabkan orang lain mati. Dari kedua ketentuan tersebut, yang paling berat adalah ketentuan UU LLAJ Pasal 310, dengan ancaman hukuman paling lama enam tahun dan denda maksimal Rp 12 juta.

Sedangkan Pasal 359 KUHP justru lebih ringan yaitu  “Barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain mati, diancam pidana paling lama  lima tahun penjara.

Sampai saat ini penyidik belum berani menafsirkan kasus tabrakan maut, dengan memahaminya sebagai kasus pembunuhan, seperti dalam KUHP baik ketentuan pasal 338 mengenai pembunuhan biasa, yang ancaman hukumannya maksimal 15 tahun.

Atau pasal 339 mengenai pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului oleh suatu delik (tindak pidana), yang dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pelaksanaannya, dst, dengan acaman pidana seumur hidup atau paling lama 20 tahun penjara.

Penyidik juga agaknya tidak berani mengenakan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman maksimal hukuman mati atau pidana penjara seumur hidup.

Ilmu Hukum pidana memberikan peluang bagi pihak penyidik  untuk mengenakan ketentuan pidana pokok  terberat. Dalam kasus tabrakan di Tugu Tani, tindakan sopir melanggar beberapa ketentuan hukum pidana dalam satu perbuatan, yaitu sebelum terjadi tabrakan dia mengonsumsi minuman keras dan Narkoba.

Ini adalah kejahatan Narkoba, dan mengendarai mobil tanpa SIM dan STNK, maka dalam ilmu hukum pidana dapat dikategorikan (Meerdaadse Samenloop atau Concursus realis).

Dalam arrest Hoge Raad 15 Februari 1932 mengenai pengemudi mabuk tanpa dilengkapi surat dan tidak menyalakan lampu dianggap melakukan gabungan beberapa tindak pidana yang berdiri sendiri.

Pasal 65 ayat (1) KUHP yaitu gabungan dari beberapa perilaku yang dipandang sebagai tindakan-tindakan yang berdiri sendiri-sendiri dan yang telah menyebabkan terjadinya beberapa kejahatan yang telah diancam hukuman-hukuman pokok sejenis, hanya dijatuhi satu hukuman.

Pada ayat (2) maksimum pidana ialah jumlah maksimum pidana yang diancamkan terhadap perbuatan itu, tetapi tidak boleh lebih dari maksimum pidana yang terberat ditambah sepertiga.

Apabila penyidik Polda Metro Jaya terlalu sempit memahami tabrakan maut itu suatu kelalain, agaknya pihak kepolisian terlalu kaku.

Pada kasus ini disebut sopir kurang hati-hati atau lalai, karena tidak menjaga jarak dan tidak berkonsentrasi. Bukan pada kasus orang mabuk karena minuman keras dan narkoba, justru itu akan menjadi hal yang memberatkan pelaku.

Mengenai hal ini ditegaskan pakar hukum pidana Muzakkir dari UII, bahwa pasal 359 KUHP dan 310 UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan hanyalah mendasarkan pada unsur kelalaian.

Yang dimaksud lalai apabila pengendara sudah tertib, sesuai aturan dan mematuhi rambu-rambu lalu lintas, tapi ada satu kejadian yang menyebabkan kecelakaan.

Apabila mengendarai sudah benar, tiba-tiba kendaraan di depan berhenti sehingga terjadi kecelakaan dan ada meninggal. Kalau  dalam kondisi mabuk, pakai ekstasi, tapi tetap mengendarai, maka dia mengetahui akan risiko. Ini bisa dikenakan pasal 339 KUHP dengan ancaman 20 tahun penjara atau hukuman seumur hidup.

Mahkamah Agung pernah menghukum sopir ugal-ugalan dengan pasal pembunuhan yaitu pasal 338 terhadap kasus kecelakaan maut Metro Mini nopol B 7821 VM pada 6 Maret 1994.

Waktu itu angkutan umum diisi 45 penumpang terjun ke Kali Sunter menyebabkan 32 orang tewas. JPU tidak menggunakan pasal 359 KUHP karena terlalu ringan, tetapi yang dipasang adalah pasal 338 yaitu pembunuhan.

Walau menimbulkan pro dan kontra di kalangan ahli hukum namun hakim tetap menerapkan pasal tersebut. Yurisprudensi MA ini juga diterapkan pada kasus kecelakaan bus Sumber Kencono jurusan Surabaya-Yogyakarta.

Mengenai ketentuan pasal dalam UU Narkotika, maka bagi pengguna meskipun ada ketentuan minimal yaitu untuk Pasal 112 yaitu minimal empat tahun dan maksimal 12 tahun, sedangkan kalau Pasal 127 yaitu penyalah guna Narkotika golongan 1 hanya diancam maksimal empat tahun.

Ketentuan ini dinilai terlalu ringan kalau dikenakan pada kasus Afriany Susanti, si sopir maut, bahkan bisa jadi hukumannya hanya rehabilitasi dengan alasan sebagai pecandu.

Berdasarkan Peraturan yang ditandatangani Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), yang mengatur pecandu yang kedapatan membawa kurang dari satu gram narkotika akan dibebaskan.

Ketentuan ini justru menambah marak peredaran Narkoba dan menjadikan Indonesia sebagai tujuan para mafia narkoba internasional.

Dengan demikian aparat hukum (polisi, jaksa dan hakim) yang mengadili kasus tabrakan maut ini harus kreatif menafsirkan ketentuan hukum pidana yang dapat dikenakan kepada pelaku.

Memahami hukum pidana tidak hanya melihat pada tindak pidana yang dilakukan atau perbuatan pelaku, melainkan juga melihat sebab-sebab kejahatan baik melihat pada pelaku maupun korban.

Hanya dengan cara ini harapan keluarga korban dan masyarakat yang prihatin, agar sopir dihukum berat, dapat diwujudkan.

Dosen Universitas Lambung Mangkurat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s