Budaya Desa Buana

Mujiburrahman“APA yang lagi pop di kalangan anak muda Jepang?” tanya saya pada Hiroshi, mahasiswa yang menemani saya selama beberapa hari di Negeri Sakura itu.

“Ada grup penyanyi gadis-gadis belia yang bernama AKB48. Lagu-lagunya selalu hit, dan penggemarnya banyak sekali. Bahkan baru-baru ini, tengah dibentuk saudara kandungnya’ di Indonesia, dengan nama JKT48,” katanya.

Mungkin karena saya sudah termasuk tua, dan selera musik saya tergolong ‘kampungan’, saya tak begitu memerhatikan AKB48 itu. Namun belakangan, saya kembali ingat dengan percakapan di atas setelah mengetahui bahwa di Indonesia telah bermunculan grup-grup penyanyi serupa. Ada Cherrybelle, 7 Icons, Princess, dan lain-lain. Mereka disebut girlband, sejajar dengan boyband.

Menariknya lagi, sebuah stasion televisi Indonesia menyiarkan kontes girlband dan boyband yang dilaksanakan di Korea Selatan. Kontes ini mirip dengan pencarian bakat ala American Idol, yang di Indonesia juga sudah ada tiruannya: Indonesian Idol.

Tidaklah aneh, sebagai bangsa yang paling gemar meniru, baru-baru ini muncul pula kontes girlband-boyband di stasion TV Indonesia.

Di awal 1960-an, pakar kajian media, Marshall McLuhan sudah meramalkan, kita akan hidup dalam sebuah desa buana (global village). Dunia yang luas ini, berubah menjadi desa kecil berkat teknologi komunikasi dan informasi. Yasraf Amir Piliang, menyebutnya sebagai ‘dunia yang dilipat’. Ya, kita kini hidup di dunia yang dilipat-lipat di layar televisi, telepon genggam, tablet dan flash disc.

Demikianlah, suka atau tidak, globalisasi adalah nyata. Berkat komunikasi yang mudah dan murah, hampir semua hal penting yang terjadi di suatu tempat, dapat diakses oleh manusia lain di segenap penjuru bumi. Maka terjadilah proses saling memengaruhi. Tentu saja, budaya yang kuat lebih berpengaruh ketimbang yang lemah. Kuat di sini berarti kuat secara ekonomi, ilmu dan teknologi.

Maka tak heran, jika satu grup penyanyi dari Jepang sangat berpengaruh. AKB48 yang dibuat oleh Yasushi Akimoto itu, berhasil berkembang pesat, dari teater pertunjukan di Akihabara (asal mula singkatan AKB), ke kota-kota lain di Jepang, hingga merambah manca negara. Pada 2011, AKB48 bahkan membuka toko dan kafe khusus di Singapura, agar lebih dekat dengan para penggemarnya.

Tentu saja, pertunjukan musik bukan sekadar hiburan belaka. Ada nilai-nilai yang menopangnya. Nilai yang paling utama adalah materi/uang. Para pebisnis, pencipta lagu, koreografer dan penyanyi, semua berkolaborasi menciptakan musik yang diharapkan dapat menyedot uang penggemar. Untuk itu, para penyanyi belia, cantik dan energik itu, diseleksi ketat dan dilatih sungguh-sungguh.

Bisnis musik memang bukan barang baru, tetapi globalisasi telah membuatnya makin berbeda dan berpengaruh. Sebelum ada media elektronik, pertunjukan musik sangat terbatas dan lokal. Kini semuanya menjadi massif, sehingga terciptalah yang disebut ‘budaya massa’. Massa adalah kumpulan orang banyak, yang identitasnya sangat beragam, namun hanyut dalam satu kesatuan.

Menurut Kuntowijoyo (1994), budaya massa memiliki tiga ciri negatif. Pertama, si penikmat  hanya menjadi objek, yang tidak punya peran apa-apa dalam pembentukan budaya itu. Kedua, ia terasing dari kenyataan hidup. Budaya massa sering membuat orang bermimpi. Ketiga, setelah mengonsumsi budaya itu, orang memang senang, tetapi tidak mendapat pelajaran hidup dan kearifan.

Namun, ini tidak berarti bahwa dunia sudah suram dan kita jatuh pasrah. Arus budaya baru biasanya tidak hanya merangsang peniruan, tetapi juga tandingan.

Karena itu, kini semakin banyak pilihan di dunia hiburan, dan orang bisa memilih apa yang baik baginya, atau menciptakan sendiri pilihan yang disukainya. Kebebasan memilih dan mencipta akan tetap ada, selemah apapun kondisi budaya kita.

Memilih dan mencipta adalah inti kemanusiaan, dan penggerak sebenarnya dari kebudayaan kita. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s