Peringatan Terakhir untuk Iran

PARA pemimpin Uni Eropa mengeluarkan peringatan bersama untuk Iran, Senin (23/1) malam. Mereka mengancam melakukan isolasi ekonomi jika negara itu tidak segera menghentikan proyek nuklirnya.

Perdana Menteri Inggris, David Cameron, Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Perancis Nicolas Sarkozy, menilai proyek itu akan mengancam dunia.

“Kami tidak berselisih dengan rakyat Iran.  Akan teyapi kepemimpinan Iran saat ini telah gagal total.

Gagal memulihkan keyakinan internasional terkait tujuan damai program nuklirnya. Kami tidak akan bisa menerima Iran memproduksi senjata nuklir,” tegas mereka dalam pernyataan bersama.

Namun, ancaman itu tidak membuat nyali pemerintah Iran ciut. Mereka balik mengancam segera menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia. Melalui penutupan itu, akan banyak negara yang kebingungan karena harga minyak dunia bisa meroket.

“Jika ada gangguan terkait penjualan minyak Iran, Selat Hormuz pasti akan ditutup. Penutupan merupakan hak Iran,” tegas Wakil Kepala Urusan Luar Negeri dan Komite Keamanan Parlemen Iran, Mohammad Kossari.

Sebelumnya, Amerika Serikat (AS) meminta ‘Teheran’ tidak menutup selat itu karena seperlima distribusi melalui kawasan itu. Jika Iran membandel, AS akan mengerahkan pasukannya untuk membumihanguskan Iran sekaligus melarang distribusi minyak dari negara tersebut.

Selama ini, negara-negara anggota Uni Eropa mengimpor hampir 600.000 barel minyak mentah per hari dari Iran. Larangan ekspor emas, logam mulia dan berlian dari Iran juga telah diberlakukan, bersama larangan transaksi ekonomi dan perjalanan terhadap anggota pemerintahan Presiden Mahmoud Admadinejad.

Selat Hormuz, adalah selat yang memisahkan Iran dan Uni Emirat Arab. Selat itu terletak antara Teluk Oman dan Teluk Persia. Pada titik tersempit, lebar Selat Hormuz hanya 54 kilometer.

Kawasan itu ini merupakan satu-satunya jalur untuk mengirim minyak keluar Teluk Persia. Menurut US Energy Information Administration, setiap hari 15 kapal tanker yang membawa 16,5 hingga 17 juta barel minyak melalui selat tersebut.

Akhir pekan lalu, kapal induk AS, USS Abraham Lincoln, yang mengangkut 90 pesawat tempur, memimpin enam kapal melintasi Selat Hormuz. Kapal itu dikawal oleh tiga kapal perang AS yang lain dan masing-masing satu kapal perang milik Inggris dan Perancis.

Dalam pernyataannya, Departemen Pertahanan Inggris membantah konvoi itu  merupakan langkah provokatif untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran. “Selat Hormuz merupakan perairan internasional dan seluruh negara harus menghormati. Ini menunjukkan bahwa kami bekerja dalam kemitraan dan solidaritas.” tegas mereka.

Pengamat Timur Tengah dari AS, Paul Stevens meragukan Iran merealisasikan ancamannya menutup Selat Hormuz, karena tindakan itu bakal berujung pada perang.

Sebaliknya, dia menilai ancaman embargo minyak Iran juga tidak bakal berhasil karena negara itu bisa mengapalkan minyaknya melalui pipa ke Turki dan Mesir. “Embargo juga akan makin meningkatkan teror dari kelompok garis keras di Iran,” ucapnya. (dlm/rtr/bbc/kps)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s