(Adakah) Niat Baik Pejabat

MENGAPA banyak orang di negeri ini berlomba-lomba ingin menjadi pejabat (negara)? Jawabannya, mudah. Selain memperoleh gaji yang besar, dan diberikan berbagai fasilitas serba mewah, mulai rumah, kendaraan bermotor dan harta benda lainnya. Selain juga tentunya keterkenalan di mata publik.

Jadi, tidak perlu heran kalau setiap orang berebut ingin menjadi pejabat. Mulai jabatan paling tertinggi dalam hirarki kepemimpinan di negeri ini, presiden, menteri, gubernur, bupati, dan wali kota, sampai yang paling rendah; kepala desa, menjadi incaran banyak orang. Tidak lagi terbatas dia penguasa, orang biasa, sampai para politisi yang memang dikenal paling bernafsu memburu posisi-posisi terhormat tersebut.

Apa sebenarnya motivasi mereka begitu ngotot menjadi pemimpin. Tidak lain, dan tidak bukan, dan ini sudah terbukti kesahihannya, muaranya adalah fulus. Dengan jabatan yang dipegangnya, sang pejabat bisa memperoleh apa saja. Jadi, sangatlah naif kalau kemudian si Fulan yang pejabat publik mengaku dirinya ‘seorang papa’ yang tak punya apa-apa. Bukan hal yang aneh pejabat publik di negeri kita ini memang paling gemar pamer kekayaan. Sterotip pejabat kita sudah sangat dikenali dan dipahami rakyat.

Dan, untuk menjadi pejabat di negeri ini, tidak lah sulit. Semuanya kembali pada isi kocek sang calon pejabat. Nah, kontes dalam pesta demokrasi adalah contoh paling nyata di mana banyaknya orang (politisi) mencoba peruntungan memburu jabatan publik. Mereka tidak segan-segan menggelontorkan dana baik milik pribadi atau lewat utang sana, utang sini sebagai pelumas untuk menarik simpati rakyat demi memuluskan ambisinya.

Meski sudah terbilang sudah rada usang, namun cukup menarik ketika Wakil Presiden Boediono menyentil para pejabat kita yang dikenal memang bertipikal stereotip. Dalam pertemuan dengan seluruh menteri, gubernur, bupati dan legislator di seluruh Indonesia, baru-baru ini, Boediono mengambil contoh sosok Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Long yang berhasil menatakelola pemerintahan dengan baik. Semua itu karena para pejabat publik di negeri jiran itu punya niat baik.

Mengapa banyak cendekia, praktisi, dan figur-figur biasa di Singapura mau menjadi pejabat, karena niatnya tidak lain hanya untuk berbuat sesuatu yang berarti bagi negerinya. Mereka dengan sukarela, tanpa perlu saling-sikut masuk dan menjadi bagian dari organ pemerintahan. Karenanya, pejabat (negara) publik lah yang selama ini bisa membawa Singapura berhasil seperti sekarang ini.

Tidak dipungkiri oleh Lee Hsein Long renumerasi bagi pejabat negara haruslah memadai. Memadai dalam arti sebenarnya. Namun, seperti diakui Lee Hsien Long, besaran gaji dan perolehan fasilitas dari negara, bukan tujuan dari para pejabat di negeri itu untuk masuk dalam pemerintahan. Mereka semata-mata menjadi pejabat karena didasari pada niat baik untuk berbuat sesuatu untuk negerinya. Pola pikir (mindset) dan sistem sepertilah yang mestinya ada pada pejabat-pejabat di negeri ini.

Kalau pola pikir pejabat kita masih gemar ‘mencari keuntungan’ sesaat, sudah pasti negeri ini akan tetap berkubang pada segunung persoalan. Contohnya praktik korupsi yang nyaris tiada pernah henti yang dilakoni para pejabat kita. Sampai kapan pun negeri ini tidak akan pernah bersih dari praktik korupsi, karena para pejabat kita memang tidak pernah punya niat baik terhadap negeri ini.

Kalau sudah demikian, sangat sia-sia dan berdosanya para pemimpin kita karena telah mengingkari sumpahnya sebagai pejabat. Dia tidak saja mengingkari amanah yang dipercayakan kepadanya, tapi juga dia telah menistakan dirinya sendiri di hadapan Yang Maha Kuasa. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s