Sopir Truk Tak Gubris Perda

BATULICIN, BPOST – Perda Nomor 3/2008 tentang Pengaturan Penggunaan Jalan Umum dan Jalan Khusus untuk Angkutan Hasil Tambang dan Hasil Perusahaan Perkebunan, hanya jadi macan kertas.

Terbukti, setiap hari iring-iringan truk batu bara leluasa melintas di jalan negara di Kabupaten Tanahbumbu dan Tanahlaut.

Setiap malam, ratusan truk pengangkut emas hitam berkonvoi melintas di jalan negara lepas dari pengawasan petugas. Bahkan, aparat keamanan dalam hal ini jajaran kepolisian dan DLLAJ seakan ‘angkat tangan’ mengatasi para sopir truk batu bara yang tetap bandel melintas di jalan negara.

“Kita sudah lakukan penindakan. Tapi, mau gimana lagi, kami kekurangan personel mengawasinya,” aku Kasatlantas Polres Tanbu AKP Moerdelly, Senin (16/1).

Berdasar pantauan BPost, ratusan truk batu bara melanggang bebas di jalan negara di wilayah Kabupaten Tanahbumbu. Seperti di kawasan Kecamatan Satui, iring-iringan truk berukuran gajah terlihat sejak pukul 22.00 Wita hingga dinihari.

Agus, warga setempat menuturkan kepada harian ini, truk-truk bermuatan batubara itu konvoi mulai dari arah Sungai Cuka dan KM 9 Simpang Empat Sumpul. Jumlah truk yang melintas lebih banyak dari malam-malam sebelumnya. “Jumlahnya mencapai ratusan unit. Mereka mulai start sejak pukul 22.00 Wita,” bebernya.

Jalan negara yang seharusnya ‘terlarang’ bagi truk-truk batu bara, nyatanya tetap dilintasi tanpa hambatan. Mereka nyaris tidak terjamah tindakan tegas dari tim penegak perda. Namun, Kapolres Tanbu AKBP Winarto menyatakan, penindakan telah mereka lakukan terhadap para sopir truk bara yang nekad melintas di jalan negara.

“Kita tetap menindak tegas para pelanggar perda. Hingga kini sudah kami sudah menindak tidak kurang 21 truk yang melanggar perda,” jelasnya.

Meski begitu, Kasatlantas Polres Tanbu AKP Moerdelly, tak menampik masih banyaknya truk batu bara melintas di jalan negara. “Ya, itu lepas dari pengawasan kami. Kami tak bisa memantau setiap waktu. Apalagi para sopir truk kadang memanfaatkan kelengahan kami,” cetusnya.

Di sisi lain, Polres Tanbu juga meminta tim dari provinsi turut mem-back-up dan turun ke lapangan, sehingga pengawasan bisa lebih intensif. Kurang adanya action tim dari provinsi juga dikeluhkan Bupati Tanah Bumbu Mardani H Maming. “Kita sudah meminta tim penegak perda dari provinsi ikut menertibkan. Sehingga penegakan peraturan benar-benar bisa berjalan efektif,” ucapnya.

Menurut dia, hingga kini penegakan perda tentang larangan penggunaan jalan negara oleh truk batu bara masih belum berjalan seperti yang diharapkan. Dia menilai pelanggaran di lapangan tetap saja terjadi.

“Kami hanya bisa melaporkan masalah itu ke provinsi. Itu sesuai wewenang saya sebagai bupati yakni melakukan pengawasan dan melaporkannya,” ucap Maming.

Serahkan Pada Tim

Kepolisian Daerah (Polda) Kalsel menyerahkan penegakan hukum terkait pelanggaran Perda Provinsi No 3/2008 kepada tim pelaksana Perda di daerah. “Ya, soal truk lewat jalan, itu diserahkan penegakan hukumnya kepada tim pelaksana perda di kabupaten masing-masing,” jelas Pjs Kabid Humas Polda Kalsel AKBP Aby Nursetyanto, Senin (16/1).

Yang jelas, sebut dia, terkait kesepakatan yang beberapa waktu lalu menimbulkan polemik telah dicabut Bupati Tanbu Mardani Maming. “Masalah itu sudah clear, dan posisi kesepakatan telah gugur dengan sendirinya. Untuk Kapolres Tanbu menunggu keputusan kapolda,” kata Aby.

Sekali Loading

Tak jauh beda, pemandangan iring-iringan truk batu bara saban hari juga melintas di jalan negara di Tanahlaut. Konvoi truk tidak hanya malam hari, tapi juga pada siang hari.

Penelusuran BPost, Senin, iring-iringan armada pengangkut batu bara menuju sebuah pelabuhan khusus (Pelsus) di Kecamatan Kintap, dekat perbatasan dengan Kecamatan Jorong. Diperkirakan ada penambangan tanpa izin yang baru saja loading sehingga truk batu bara kerap terlihat melintasi jalan raya. Bak truk sebagian ditutupi terpal, sebagian telanjang (terbuka).

“Kalau pas ada peti yang loading, cukup banyak batu bara yang diangkut, bisa sampai 300 rit,” tutur seorang tokoh pemuda Kintap, Senin (16/1).

Umumnya satu unit truk hanya mampu mengangkut 1 rit (7-8 ton). Itu artinya ada sekira 300 unit truk batu bara melenggang bebas di jalan negara. Lamanya pengangkutan tergantung kondisi di lapangan. Jika tidak hujan dan tak ada patroli/razia petugas, 2-3 hari pun bisa ludes terangkut ke pelsus.

Pengangkutan umumnya intens pada malam hari hingga dinihari pukul 03.00 Wita. Namun, tidak jarang ada juga yang nekat melintas siang hari. Gerakannya kadang sembunyi-sembunyi. Namun adakalanya terang-terangan dengan konvoi truk hingga puluhan unit.

M. Hardiansyah, aktivis LSM Merah Putih (MP) Tala mengaku beberapa hari melakukan pemantauan jalan negara jalur ke Kintap hingga Sungaidanau. Dari pemantauan itu dia menyaksikan beberapa truk batu bara melintas di jalan negara.

“Memang, jalur di Kintap banyak jalan tikus yang tembus ke jalan negara,” tuturnya.

Dia melihat pengawasan oleh Tim Terpadu Pengaman Perda Provinsi Nomor 3/2008 kurang intens sehingga masih banyak truk batu bara melakukan pelanggaran. Menurut dia, pos pantau di Asamasam tidak efektif karena, letaknya jauh dari pusat kegiatan penambangan di Kintap.

“Yang lewat pos umumnya hanya angkutan kelapa sawit. Seharusnya pos pantau didirikan di Kintap, di Desa Pandansari, yang memang kerap dilintasi truk batu bara,” kata Hardiansyah. (wnd/roy/kur)

One thought on “Sopir Truk Tak Gubris Perda

  1. Dengan adanya kegiatanan manualan/karungan batu bara oleh warga masyarakat khusus nya dikecamatan Kintap tentunya sangat membantu tumbuh dan berkembangnya perekonomian pendapatan warga.
    selama ini warga hanya bisa melongo meliahat dan menjadi penonton dilumbung nya sendiri ,dimana prusahaan-perusahaan besar pertambangan seperti PT.Arutmin dll dengan rakus nya menggarap lahan2 milk warga tanpa perduli dengan lingkungan sekitarnya.

    Belajar dari rasa ketertinggalan itu warga mulai paham dan berinisiatif untuk bangkit dari keterpurukan perekonomian yang kian menghimpit.
    Berawal dari pemenfa’atan limbah sisa buangan PT.arutmin warga memberanikan diri berusaha tuk mengumpulkan bijian bijian batu bara dan dimasukan kedalam karungan seberat 35 kg kemudian dijual seharga Rp: 35’000 / 1 karung. dalam 1 hari warga bisa mendapatkan 25 karung. terkadang warga mesti main kucing kucingan dengan PENDEKAR nya PIHAK perusahan yang kerap kali mengusir warga yang memenfaatkan limbah batu bara tersebut
    Banyak warga masyarakat merasa sangat terbantu perekonomian nya dengan manualan tersebut hampir tidak ada lagi angka pengangguran khususya di wilayah kecamatan Kintap. dengan semangat bangkit dari keterpurukan perekonomian warga masing -masing menyibukan diri untuk mengais dan mengumpulkan karung demi karung bijian atau serbuk batu bara buat biaya kebutuhan dalam keluarga.

    Terlepas dari pengetahuan juga kesadaran akan hukum ketatanegara’an tentang pertambangan di Indonesia warga dengan lugu nya mulai berani memanfa’atkan sisa lahan-lahan nya sendiri tuk di gali dengan peralatan cangkul dan mengambil batu bara nya terkadang warga juga memanfa’atkan lobang2 sisa galian tambang dan membuat terowongan/solongan di kedalaman jalur batu bara.
    sampai sa’at ini warga merasa sangat terbantu dengan adanya kegiatan manualan dilahan lahan milik nya sendiri atau dengan cara kerja sama bagi hasil dengan pemilik lahan lain.

    Terkait dengan judul pemberita’an di atas tentang bebasnya angkutan batu bara di jalan umum negara itu adalah hak sepenuhnya oleh aparat penyelenggara negara untuk mengkondisikan nya.
    Warga masyarakat hanya dapat berharap pihak pemerintah agar lebih arif dan bijaksana dapat menampung atau mewadahi kegiatan usaha manualan yang dilakukan oleh warga tersebut.
    Sangatlah riskan jika “anak ayam harus mati di lumbung padi sendiri”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s