Proyek (Siluman) DPR

PERCAYA atau tidak, suka atau tidak, lembaga perwakilan rakyat kita memiliki banyak agenda terselubung. Khususnya soal proyek-proyek pembangunan di internal parlemen.  Tidak hanya di pusat, tapi juga menular hingga ke parlemen di daerah. Berbagai cara dilakukan oleh lembaga perwakilan rakyat kita untuk meluncurkan berbagai proyek yang sejatinya hanya untuk menghambur-hamburkan uang rakyat. Proyek renovasi ruang rapat mewah untuk Badan Anggaran (Banggar) DPR adalah salah satu dari sekian agenda siluman yang menyakitkan kita. Apalagi, kita tahu sudah ratusan miliar rupiah proyek-proyek siluman di DPR, mulai pengadaan laptop, renovasi toilet, pembangunan halaman parkir, dan terakhir renovasi ruang rapat banggar. Itu baru yang terpublikasi. Sangat-sangat mungkin masih banyak proyek siluman lainnya yang selama ini tidak pernah terdeteksi. Proyek-proyek itu sengaja demi untuk memuasi para wakil rakyat yang sejatinya tidak merakyat itu.

Boleh saja dalih prosedural telah dipenuhi oleh yang punya hajat (proyek). Tapi, tetap saja kita melihat proyek-proyek terselubung di DPR tidak lebih dari akal-akalan para wakil rakyat yang memang punya hobi menguliti uang negara. Meski kita tidak ber-suudzon, namun patut diduga berbagai proyek siluman tidak lepas dari upaya terselubung DPR mencari ‘penghasilan’ tambahan di luar gaji resmi.

Setidaknya dengan adanya proyek-proyek siluman, oknum-oknum di DPR bisa mengatur atau menentukan siapa saja yang bakal menggarap pembangunan. Dan, bukan rahasia umum kalau para anggota DPR memiliki banyak relasi pengusaha, kontraktor maupun pemborong. Bahkan, tidak sedikit pula anggota DPR yang juga merangkap sebagai pengusaha.

Kita mendukung langkah Indonesian Corruption Watch mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menelisik semua proyek siluman di DPR. Pasalnya, selama ini proyek-proyek pembangunan di DPR memang tidak pernah transparan, dan selalu memantik kecurigaan kita. Terlepas dari itu, proyek-proyek bernilai ratusan miliaran rupiah yang sudah terbangun tidak pernah memberikan manfaat bagi peningkatan kinerja para legislator di Senayan.

Apa benar, dengan berbagai fasilitas mewah yang kini diperoleh DPR telah menjadikan para wakil rakyat semakin membumi dengan masyarakat? Kalau boleh jujur kita katakan, prilaku wakil rakyat kita saat ini semakin jauh dari konstiuennya. Sangat aneh memang aturan di DPR ini.  Keistimewaan yang diberikan undang-undang kepada mereka sudah saatnya ditinjau ulang. Dengan keistimewaan yang dimiliki, justru menjadikan legislator besar kepala dan sok kuasa.

Ironis sekali, hanya untuk menemui konstituen, negara harus menganggarkan ratusan miliar untuk DPR. Padahal, logika orang sehat, kenapa anggota DPR itu terpilih, tidak lain karena rakyat menghendakinya. Jadi, sudah sepantasnya kalau sang anggota DPR itu memberikan balas jasa yang secara rutin menemui konstituennya di daerah-daerah pemilihan. Sangatlah konyol, kalau kemudian urusan itu dibebani kepada negara. Lha, dimana tanggung jawab moral anggota dewan, demikian juga partai politik yang menjadi rumah politiknya.

Kembali ke soal proyek siluman. DPR selalu melakukan pemborosan yang tidak pada tempatnya dan sangat melukai hati rakyat. Kasus renovasi ruang rapat adalah langkah paling konyol dilakukan DPR. Terlepas kesekjenan DPR yang menjadi pelaksana, namun tetap saja secara lembaga DPR telah melukai hati rakyat. Rasa nasionalisme yang dikoarkan penuh semangat di bilik-bilik parlemen, tak lebih hanya cuapan yang tidak punya makna.

Sosok anggota DPR selalu memiliki wajah ganda. Di satu sisi mengaku sangat bangga dan mencintai produk ibu pertiwi. Namun, di wajah lainnya, mereka dengan bangga memakai produk-produk luar yang supermewah. Tidak segan-segan mereka pun memamerkan produk luar dengan harapan bisa menaikkan strata sosial mereka di masyarakat.

Kita pun merasa gondok luar biasa, kalau hanya untuk urusan kursi dan meja harus mendatangkan dari Jerman. Apa memang produk kursi dan meja dari Jepara atau daerah-daerah lainnya di negeri kita tidak berkualitas? Padahal, meja kerja Pangeran Benhard dari Belanda berasal dari Jepara.

Tapi, sekali lagi. Karena itu proyek siluman, tentu semuanya memang menjadi serba terselubung. Tidak hanya dananya yang wah, tapi juga tentu adanya ‘komisi’ yang tidak sedikit diterima oknum tertentu yang menggolkan proyek siluman tersebut. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s