Perlu Jaminan Kejujuran Mutu (Analisis UN Sebagai Syarat Masuk PTN)

Oleh: Prof Sutarto Hadi

APA pentingnya nilai ujian nasional (UN)? Menggambarkan pengetahuan dan kompetensi siswa secara akademik (kognitif)? Atau nilai yang baik menjadi jaminan memperoleh kursi di lembaga pendidikan terbaik. Lalu mendapat pekerjaan baik, dan status sosial ekonomi tinggi?

Ada cerita tentang seorang lulusan sekolah menengah kembali ke sekolahnya dengan mengiba-iba. Nilai mata pelajaran Fisika di ijazahnya 10, nilai sempurna. Seharusnya dia bangga. Yang terjadi adalah si alumni meratap kepada guru dan kepala sekolah, meminta agar nilai 10 tersebut diturunkan. Ia tidak sanggup menanggung beban nilai sepuluh. Saya bangga dengan si alumni ini. Ia berani jujur tidak hanya pada dirinya sendiri, tetapi juga kepada guru-guru di sekolahnya. Bahwa dia bukan siswa yang pantas mendapat nilai sepuluh itu. Itu adalah nilai palsu hasil rekayasa.

Tidak sedikit siswa yang terheran-heran melihat nilai UN mereka.  Bukan karena nilainya jelek, tapi sebaliknya. Itulah hasil pekerjaan tim sukses sekolah. Sukses meluluskan siswa hingga 100 persen!

Kejujuran sudah menjadi barang langka di negeri ini. Banyak orang melakukan manipulasi untuk menutupi ego dan kebobrokan diri.  Dalam banyak kasus, nilai UN adalah nilai aspal. Asli tapi palsu.

Pembaca masih ingat dengan berita tentang seorang siswa sebuah SMA favorit di Banjarmasin yang kepergok sedang membuka telepon genggam (TG) saat mengikuti UN. Peristiwa itu justru terjadi pada saat kunjungan anggota DPR yang sedang memantau pelaksanaan UN.

Mohon digarisbawahi bahwa ini terjadi di sebuah sekolah favorit dan pada saat itu sedang ada kunjungan rombongan DPR .

Apa salahnya siswa membuka TG? Membawa TG dilarang selama ujian. TG adalah sarana komunikasi yang digunakan untuk mendistribusikan kunci jawaban.  Lalu, siapa yang menyebarkan kunci jawaban itu?

Siapa pun orangnya, yang pasti dia memiliki lembar soalnya. Beberapa sekolah sebelum pelaksanaan UN meminta siswa untuk membawa minimal dua TG. Sesaat sebelum ujian pengawas akan memeriksa setiap siswa, dan mengambil TG yang mereka bawa. Tapi tidak perlu khawatir toh masih ada satu TG sebagai cadangan.

Masih banyak modus yang lain, seperti siswa secara bergantian mohon izin kepada pengawas pergi ke toilet karena kebeletpipis. Siapa yang bisa melarang?

UN memang penuh kontroversi. Biaya pelaksanaannya sangat besar. Untuk tahun 2012 pemerintah mengajukan anggaran Rp 580 miliar. Padahal hasil yang didapat tidak sebanding, bahkan kontraproduktif.

Saya meragukan efektivitas UN sebagai sarana memeratakan mutu pendidikan. Nilai UN dijadikan syarat kelulusan, dan persentase kelulusan menjadi ukuran keberhasilan pendidikan.

Kepala daerah mengingatkan sekolah agar memenuhi target yang tinggi hingga 100 persen. Hal itu diterjemahkan oleh sekolah dengan membentuk tim sukses. Sayangnya, tim ini tidak bekerja sejak awal tahun ajaran. Ketika semua sudah terlambat, berbagai cara ditempuh untuk menyelamatkan muka sekolah dan kepala daerah.

Diduga telah terjadi penurunan mutu pendidikan secara sistematis akibat kebijakan UN sebagai penentu kelulusan. Pengambil kebijakan (mungkin tidak sadar) terjebak dalam ukuran-ukuran palsu yang justru merugikan siswa, orangtua, dan bahkan praktisi pendidikan sendiri seperti guru dan kepala sekolah.

Dampak dari ini sungguh luar biasa. Investasi yang dikeluarkan oleh pemerintah dan masyarakat untuk pendidikan anak-anak tidak mendapatkan balikan yang sesuai, yaitu generasi yang cerdas, jujur, terampil dan mandiri. Yang didapat justru sebaliknya, yaitu generasi  bodoh, koruptif, apatis, malas, suka mengancam, dan tidak memiliki daya juang.

Ironisnya ini tejadi di era keterbukaan, saat batas antar negara semakin kabur, dan persaingan semakin ketat.

Dengan gambaran seperti di atas, kita bisa membayangkan praktik pendidikan yang berlangsung di sekolah-sekolah kita. Lalu, muncul berita bahwa hasil UN dijadikan syarat masuk perguruan tinggi negeri (PTN).

UN dan Ujian Tulis Seleksi Nasional Masuk PTN (Utul SNMPTN) adalah dua instrumen berbeda untuk obyek yang sama. UN adalah tes untuk menilai peforma siswa terhadap penguasaan sejumlah kompetensi yang dipersyaratkan dalam kurikulum. Soal-soal dalam UN tidak boleh keluar dari kisi-kisi yang telah ditetapkan.

Ringkasnya, UN adalah tes kompetensi akademik. Sementara Utul SNMPTN adalah tes untuk mengukur potensi seseorang untuk belajar di PT. Utul SNMPTN bersifat prediktif. Soal-soalnya bisa di luar kurikulum. Utul SNMPTN merupakan tes potensi akademik.

Tapi, apakah kedua jenis tes tersebut tidak bisa digabungkan dalam satu instrumen?

Tentu saja bisa, karena pada dasarnya kompetensi bisa juga menggambarkan potensi seseorang. Beberapa PTN terkemuka, seperti IPB dan UGM menerapkan seleksi penerimaan mahasiswa baru melalui Penelurusan Bibit Unggul Daerah menggunakan nilai rapor siswa selama lima semester sebagai acuan.

Ini menggunakan asumsi anak yang kompeten dalam menguasai materi kurikulum di sekolah memiliki potensi untuk berhasil belajar di PT.

Jadi, ide untuk menjadikan UN sebagai syarat masuk PTN adalah bagus. Tapi ada satu syarat agar bisa diterapkan, yaitu UN tidak dilaksanakan oleh sekolah tapi oleh PTN, BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) atau oleh lembaga independen.

Ini jelas lebih praktis dan ekonomis. Ujian hanya satu kali. Tempat pelaksanaan UN bisa di kampus atau di sekolah sendiri dengan panitia bukan dari unsur sekolah. Pada saat pelaksanaan UN guru-guru diliburkan.

Pelaksanaan UN dijamin lebih jujur dan adil, karena terhindar dari vested interest dan tidak ada rasa saling curiga. Selama ini sekolah tidak memperoleh jaminan bahwa sekolah lain tidak melakukan kecurangan yang sama. Berikan dulu jaminan bahwa UN berlangsung dengan jujur.

Saya yakin, semua sekolah akan berkata: mari kita bersaing secara sehat. Kalau ini terwujud masa depan pendidikan Indonesia akan cemerlang.

Penulis, guru besar pada Universitas Lambung Mangkurat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s