Penyakit Macet

MujiburrahmanSATU hal yang sangat menyebalkan dalam hidup  adalah terperangkap dalam kemacetan. Macet berarti menunggu, tertahan dan terlambat sampai ke tujuan.

Menunggu itu biasanya membosankan. Menunggu satu menit, seolah satu jam rasanya.  Apalagi, saat menunggu itu kita diguyur hujan, atau dibakar sinar matahari.

Namun kemacetan seolah kemalangan yang tak dapat ditolak, termasuk di Kota Banjarmasin. Siapa pun yang lewat di Jalan A. Yani, Gatot Subroto, Kuripan, Pasar Lama dan arah ke Kayu Tangi saat jam sibuk pagi atau sore, ia tentu sering terkena macet. Kemacetan juga peristiwa tiap hari yang terjadi di jalur menuju sekolah-sekolah di Kompleks Mulawarman.

Banyak hal yang menyebabkan macet. Salah satunya, pelebaran jalan dan pembuatan jalan baru tidak sebanding dengan jumlah kendaraan bermotor yang terus meningkat.

Peningkatan jumlah kendaraan itu, selain menunjukkan peningkatan taraf ekonomi dan watak konsumtif masyarakat kita, juga menjadi bukti melonjaknya jumlah penduduk di Kota Banjarmasin.

Kemacetan makin parah jika penduduk kota yang membeludak itu tidak memiliki kesadaran tertib berlalu lintas. Misalnya, warga seenaknya memarkir mobil dan sepeda motor di badan jalan, sehingga jalan yang sudah sempit menjadi makin sempit.

Parkir seperti itu tidak hanya ada di jalan-jalan kampung, tapi juga di Jalan Arjuna, samping Polresta Banjarmasin!

Polisi sendiri sebenarnya sudah bekerja keras mengatasi kemacetan. Pagi-pagi sekali, mereka sudah siap mengatur ketertiban lalu lintas, terutama di titik-titik macet.

Mereka menjaga jalur kanalisasi sepeda motor, menjaga ketertiban di lampu merah, membantu pengendara yang mau membelok dan menolong penyeberang jalan. Ini sebenarnya pelayanan yang luar biasa.

Tetapi ketika polisi tidak ada, para pengguna jalan sering tidak tertib lagi. Misalnya, pada jalur lampu merah, yang di situ tertulis: belok kiri langsung.

Itu berarti jalur samping kiri jalan tidak boleh ditutup. Tetapi karena ingin berada di posisi depan mendekati lampu merah, sejumlah mobil dan sepeda motor malah menutupnya, sehingga terjadilah kemacetan.

Mungkin perilaku kita di jalan adalah cermin watak kita yang asli. Meski mengaku santun dan penuh kesetiakawanan, dalam kenyataan kita justru egois dan tidak sabaran. Tak peduli orang lain terhambat, yang penting kita sendiri lancar.

Belum sedetik lampu hijau menyala, kita sudah ramai-ramai meneriakkan klakson. Seolah-olah kita ini sedang dikejar-kejar setan!

Kadangkala egoisme itu terselubung. Ketika pejabat lewat, kita semua minggir demi dia yang mengurusi kepentingan umum.

Tetapi siapa tahu ia bepergian untuk urusan pribadi? Begitu pula, apakah mobil-mobil pemadam kebakaran yang melesat cepat diiringi raungan sirene dan seruan keras agar kita minggir suatu wujud kepedulian sosial, atau sekadar aksi-aksian?

Mungkin ini semua akibat kebijakan pembangunan kita yang egoistis alias sangat terpusat di ibu kota, ibukota provinsi atau negara.

Kota menjelma bagaikan orang rakus yang memakan makanan tanpa aturan, sehingga tekanan darahnya tinggi dan kadar gulanya melonjak sampai akhirnya segala macam penyakit menimpanya. Salah satu penyakit itu adalah penyakit macet.

Maka pembuatan jalan layang dan pelebaran jalan hanyalah sebagian dari solusi kemacetan. Pemindahan administrasi pemerintahan ke Banjarbaru, adalah langkah lainnya. Tetapi semua kota dan desa di daerah kita juga perlu dimajukan agar pemerataan terwujud.

Syarat lainnya adalah peningkatan kesadaran tertib berlalu lintas dan penegakan hukum tanpa pandang bulu.

Alhasil, kemacetan adalah penyakit yang harus kita obati sampai sembuh. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s