Kalapas Beking Hartoni Marah

  • Tidak Terima Divonis 13 Tahun

CILACAP, BPOST – Emosi Marwan Adli sontak terpantik saat Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Cilacap, Jateng, Wilhelmus Hubertus Van Keeken menjatuhkan vonis untuk dirinya.

Mantan kepala lembaga permasyarakatan (Kalapas) Nusakambangan itu dihukum 13 tahun penjara dan denda Rp 10 miliar subsider delapan bulan.

Dia terbukti terlibat bahkan membekingi kasus peredaran narkoba yang dilakukan sejumlah napi di lapas tersebut.

“Saya banding,” teriak Marwan begitu Wilhelmus mengucapkan hukuman untuk dirinya dalam sidang yang digelar di PN Cilacap, Jateng, kemarin malam.

Sambil menggeleng-gelengkan kepala, Marwan berulang kali mengelus jenggotnya. Dia tidak terima meski hukuman itu lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) selama 20 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar.

Dalam sidang-sidang sebelumnya, Marwan juga mengaku sangat kesal terhadap tindakan JPU yang tidak mempertimbangkan banyak dokumen. Menurut dia, fakta yang disampaikan JPU bukan fakta persidangan. Ia curiga, dalam perkaranya, JPU diintervensi Badan Narkotika Nasional (BNN). “Sudah jelas, ini ada intervensi,” tegasnya saat sidang tuntutan akhir Desember 2011 lalu.Dalam amar putusannya, majelis hakim menyatakan Marwan terbukti mengetahui adanya peredaran narkotika yang dikendalikan narapidana, Hartoni Jaya Buana. Marwan ikut memfasilitasi Hartoni untuk melakukan bisnis haramnya dengan memberikan telepon seluler.

“Terdakwa ikut  permufakatan jahat untuk mempermudah Hartoni melakukan tindak pidana peredaran narkotika,” kata Wilhelmus.

Sebagai kamuflase, Marwan membuatkan rumah untuk Hartoni di belakang kandang sapi di kompleks lapas, dengan fasilitas lengkap.

Kandang sapi itulah yang digunakan sebagai akal-akalan keduanya untuk menyamarkan kegiatan peredaran narkotika.

Bagi warga terutama aparat kepolisian di Kalsel terutama yang menangani peredaran narkoba, Hartoni bukan ‘orang asing’. Mantan pengusaha kayu di Kalsel itu kerap berurusan dengan polisi karena mengedarkan berbagai jenis narkoba seperti ineks, ekstasi dan sabu.

Akibat aksinya itu dia ditahan di Lapas Teluk Dalam Banjarmasin, sebelum dipindah ke Lapas Nusakambangan. Selama di Kalsel, dia pernah mengontrak rumah di Jalan Pulau Laut dan Jalan Jafri Zamzam.Di penjara yang konon penjagaannya superketat itu, Hartoni kembali menjalankan aksinya. Dia mengendalikan peredaran narkoba senilai miliaran rupiah dari balik sel dengan bekerja sama dengan sejumlah petugas termasuk Marwan. Selain itu, dia bekerja sama dengan napi asal Nepal, Bosthi dan napi lokal, Syafrudin alias Kapten.

Kepada pers di sela-sela menjalani pemeriksaan di Polres Cilacap, Hartoni mengaku mendatangkan narkotika dari Jakarta. Selain diedarkan ke dalam lapas juga sejumlah daerah, termasuk di Banjarmasin. “Di Banjarmasin lebih banyak, kiloan. Cepat lakunya,” ucap Hartoni, Maret 2011 silam.

Dalam kasus itu, Marwan menerima uang hasil jual beli narkotika. Uang tersebut selanjutnya ditransfer ke rekening Rinal Kornial, yang merupakan cucu Marwan. Diduga Marwan mendapatkan imbalan yang ditransfer secara berulang-ulang sejak 2009 hingga Februari 2011 dengan total sedikitnya Rp 400 juta.
Akibat tindakan Marwan, Hartoni leluasa melakukan transaksi pengiriman sabu dari Jakarta ke Banjarmasin sebanyak 5,5 kilogram.Menanggapi banding  Marwan, JPU Budi Santoso menyatakan siap menghadapi. Menurut dia, vonis majelis hakim lebih rendah dari batas minimal 2/3 tuntutan dalam kasus narkotika.

“Batas minimalnya kalau dituntut 20 tahun ya 13 tahun empat bulan, namun hakim memvonis hanya 13 bulan. Karena terdakwa banding tentu kami siap (menghadapi). Kami juga mengajukan banding,” katanya.

Menanggapi vonis untuk mantan anak buahnya, Kadiv Kemasyarakatan Kanwil Kemenkum HAM Jateng, Joko Setiyono mengatakan hukuman setimpal memang patut dijatuhkan kepada pengedar narkotika, apalagi dia adalah aparat penegak hukum. (tj/hnw/dtn)

JEJAK KASUS
8 Maret 2011: Badan Narkotika Nasional (BNN) melakukan razia di Lapas Nusakambangan. Selain Kalapas Marwan Adli juga ‘menyeret’ Kepala Pengamanan Lapas Iwan Syaefudin dan Kepala Sub Bidang Pembinaan dan Pendidikan, Fob Budhiyono. Selain itu, berdasar hasil pengembangan kasus itu, anak dan cucu Marwan juga ditangkap.

13 September 2011: Marwan menjalani sidang perdana di PN Cilacap. – 28 Desember 2011: Marwan dituntut JPU dengan hukuman 20 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar. Sedangkan 6 orang terdakwa lain termasuk anak dan cucu Marwan dituntut hukuman penjara 4 tahun dan denda Rp 500 juta

12 Januari 2012: Marwan dijatuhi hukuman 13 tahun penjara. Rinal dihukum 1 tahun, Fob (7 tahun), dua pembantu Hartoni, Rita Juniati dan May WUlandari (masing-maisng 2,5 tahun), Andhika (2,5 tahun), Dhiko (1,5 tahun).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s