Unlam di Ujung Tanduk

  • Terancam Dibina Universitas Lain

BANJARMASIN, BPOST – Sudah setengah abad lebih usia Universitas Lambung Mangkurat (Unlam). Banyak prestasi yang ditorehkan. Tidak sedikit pula alumninya memiliki peran penting di negara ini. Bahkan, salah satu menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II berasal dari kampus terbesar di Kalsel itu.

Namun, di usianya yang matang, Unlam masih terbelit masalah krusial. Bahkan, bisa dikatakan berada di ujung tanduk.

Pasalnya, Unlam tidak kunjung beranjak dari Akreditasi C. Sudah setahun akreditasi itu disandang Unlam.

Status akreditasi disandang sebuah perguruan tinggi selama dua tahun. Jika dua kali berturut-turut, Unlam menyandang Akreditasi C, dia akan di bawah binaan universitas lain yang ditunjuk Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas). Jika itu terjadi, benar-benar menyesakkan dada. Tak hanya sivitas akademika, tetapi juga alumni dan warga Banua.

“Jelas kami tidak mau dibina universitas lain. Mudah-mudahan pengalaman pernah dipimpin orang luar Unlam juga tidak terulang,” kata Rektor Unlam HM Ruslan kepada BPost, kemarin.

Memang, saat terjadi kemelut pemilihan rektor sebelum dijabat Ruslan, Unlam dipimpin –meski sementara– oleh Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Yusuf Sudohadi.

Padahal,  Unlam memiliki 1.054 dosen yang tersebar di 54 program studi (prodi). Dosen bergelar doktor sebanyak 100 orang atau lebih kurang 10 persen dari total jumlah dosen, sedang guru besar (profesor) hanya 33 orang atau tiga persen dari total dosen. Dari 33 prodi di Unlam, 20 persen di antaranya terakreditasi C.

Tetapi, standar Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (Dirjen Dikti) Kemendiknas, untuk mendapat akreditasi B harus memenuhi persyaratan yakni memiliki 20 persen doktor dan 10 persen guru besar.

Untuk bisa menaikkan status akreditasi, sivitas akademikaUnlam harus bekerja keras.
Juga, menggenjot jumlah dosen bergelar doktor dengan menambah 10 persen atau 100 orang lagi. Selain itu mencetak tujuh persen guru besar atau sekitar 70 dosen bergelar profesor. Semua itu harus tercapai dalam waktu empat tahun. Mampukah?

Berdasar hitung-hitungan ‘normal’ sulit menggapainya. “Standar itu terlalu tinggi. Jika begitu universitas maju saja yang bisa dapat akreditasi A dan B. Hal itu akan kami kritisi dan bahas dengan Dirjen Dikti,” ujar Ruslam.

Upaya mengritisi boleh saja dilakukan, tetapi untuk mengubah standar tentu memerlukan waktu panjang dan tentunya juga kesepakatan dari perguruan tinggi lain.

Ruslam menyadari hal itu. Dia menegaskan, salah satu jalan untuk bisa melepaskan dari ancaman menjadi binaan perguruan tinggi lain adalah kerja keras untuk mencapai standar. “Semua lini harus kerja keras. Semuanya…,” tegas guru besar Fakultas Kehutanan itu. Berdasar informasi yang dihimpun BPost, Unlam pernah berada di posisi akreditasi B.

Namun, pada 2009, saat disertifikasi Dirjen Dikti Kemendiknas, akreditasinya turun menjadi C. Boleh dikatakan inilah ‘warisan’ yang harus diterima Ruslan.

Mengapa bisa turun? Banyak faktor yang menyebabkan. Salah satunya adalah kurang aktifnya dosen melakukan penelitian. Namun, seorang dosen yang enggan disebutkan namanya mengatakan ‘kemalasan’ dosen dikarenakan berbelitnya birokasi di internal kampus.

Terutama, prosedur untuk mendapatkan dana hibah penelitian. “Bahkan, seringkali prosedurnya sangat rumit dan tidak masuk akal Beda dengan perguruan tinggi lain,” tegasnya.

Selain itu, pertanggungjawaban administrasi dana bantuan juga sangat detail. Contoh kecil, saat menjamu makan narasumber penelitian di warung sangat sederhana, harus ada bukti pembayarannya. “Itu hanya salah satu contoh sederhana. Makanya teman-teman jadi agak malas,” ucap dosen noneksata itu.

Selain itu, imbuhnya, ada ‘kewajiban’ memberi fee (komisi) saat mengurus surat tugas penelitian. Para dosen terpaksa memenuhi itu karena Unlam belum mengapresiasi penelitian pribadi (tidak berdasar penugasan dari kampus).

Kondisi semacam itu akhirnya mendorong sejumlah dosen memilih meneliti melalui cara bekerja sama instansi lain baik swasta maupun pemerintahan. “Prosesnya lebih mudah. Prosedur mendapatkan dananya juga tidak terlalu sulit. Tetapi saya  tetap melakukan penelitian untuk universitas guna memenuhi syarat kenaikan pangkat,” kata dosen lainnya.

Menanggapi itu, Ketua Lembaga Penelitian (Lemlit) Unlam, Ahmad Alim Bachri mengakui adanya keribetan administrasi. “Wajar mereka  mengeluhkan itu. Seringnya yang diberikan hanya laporan, padahal tentu harus ada kwitansi. Tujuannya untuk akuntabilitas,” kata Ahmad.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Lemlit membentuk Tim Pengelola Administrasi Keuangan untuk mengurus administrasi keuangan peneliti. “Intinya, persoalan administrasi tidak boleh menghambat penelitian,” tegasnya.

Saat koran ini menjukan izin melihat data penelitian, Ahmad mengizinkan dengan syarat tidak memuat anggaran penelitiannya. Akan tetapi, pernyataan Ahmad berbanding terbalik dengan sikap seorang staf Lemlit.

Dia terkesan enggan melayani. Beragam alasam dikemukakan dari listrik yang padam hingga komputer penyimpan data terkena virus.

Setelah menunggu lama, akhirnya dia bersedia menyerahkan data itu. Data 2008-2010 yang diperlihatkan itu juga tidak terperinci antara penelitian mandiri dan ‘penugasan’ Lemlit. “Data yang lengkap di komputer yang terkena virus,” katanya. (has/dwi/hay)

8 thoughts on “Unlam di Ujung Tanduk

  1. MALU HARUS NYA BUBUHAN URANG KITA NANG PINTAR PINTAR DI BANJAR ,MANDANGAR UNLAM HANDAK DI AMBIL UNVERSITAS LAIN,,,MANA HARGA DIRI URANG PINTAR DI KALSEL,KADADA HARGA DIRI,JANGAN KAN UNTUK MEMAJUKAN UNLAM,MANA RAJA BANJAR,MANA GUBERNUR,KADA BISA KAH DI BAHAS LEWAT RAPAT,,,DAERAH2 LAIN MAJU2 UNIVERSITASNYA ,WADAH KITA MALAH MEROSOT….COBA CONTOH ITB,UNHAS,UGM,BUBUHAN KITA ANDAK PINTAR SORANG.KADA MAU NYONTOH DAERAH MAJU,WALUH AJA ,BISA NYA BAROKOK RIPUS2…GIGI PALSU DI SIKAT…KADADA BADUIT MARANGUT MUHA,,,,,,KADADA HARGA DIRI…….SUPAN KITA LWN DAERAH LAIN NANG MAJU…….

  2. ya jelas akreditasinya tdk naik2, sebab msalah pnelitian aja tertutup plagi msalah penggunaan anggaran. Perlu ada audit publik utk mjamin transparansi dan akuntabilitas serta profesionalitas dmasa kterbukaan ini utk koreksi dan perbaikan dmasa da ang

  3. sudah gan yang penting kita fokus untuk kedepannya saja . . percuma kita smpe beliuuran mencuap cuap mun buan atas kdd maherani ua, kita aj yg bebisa bisa menaikan kal sel ini,, minimal dari hal yg halus dengan harapan akan semakin besar suatu hr nanti

  4. wajar saja unlam semakin merosot, karena banyaknya gang yang membuat kita merasa muak, banyak senior2nya yang tidak mau maju, selalu menghambat dosen yang muda. dan dosen muda yang sudah pulang sekolah tidak mendapat perhatian serta diperdayakan sehingga banyak yang ingin keluar dari Unlam. apalagi baru2 tadi ada kasus perselingkuhan sehingga PR2nya terlempar dari jabatan.ini juga menjadikan image bagi masyarakat.tidak ada kekompakan antara guru besarnya.malah saling becakut pepadaan. yang paling tragis lagi banyak orang pintar di unlam tetapi tidak berdaya yang akhirnya sempat dipimpin oleh orang lain. sangat memalukan seantero dunia.harapan saya bangkitlah unlam supaya bisa sejajar dengan univ. yang lain.

  5. dasar kada jelas,unda nih hanyar haja lulus s2 di Unlam, pas handak ma ambil Ijazah dasar berbelit2 birokrasinya, amun unda kisahakan disini bisa panjang banar. pokoknya jar dosen nang bakisah di atas tu dasar bujur, Ulam ni mangaradaw birokrasinya.

  6. sebenarbya saya sangat tertarik untuk kuliah di UNLAM namun setelah mengetahui akan hal ini kayanya saya pikir banyak calon mahasiswa mengurungkan niat saya untuk bisa kuliah disini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s