Tersangka Gula Tak Cuma Satu

BANJARMASIN – Akhirnya, Polresta Banjarmasin menetapkan direktur utama PT Makassar Te’ne sebagai tersangka pasokan gula rafinasi ke Kalsel.

Diduga, pasokan gula sebanyak 3.750 ton itu tidak dilengkapi Surat Persetujuan Perdagangan Gula Rafinasi Antarpulau (SPPGRAP) dari Ditjen Perdagangan Dalam Negeri.

Penetapan status tersangka dilakukan setelah personel Reskrim Polresta Banjarmasin menggelar kasus tersebut di depan penyidik Polresta dan Polda Kalsel.

Dalam penelaahan kasus itu, juga disampaikan hasil koordinasi dengan Ditjen Perdagangan Dalam Negeri.

‘Berdasar hasil konsultasi dan keterangan Pak Dirjen, kasus itu murni pidana dan kesalahan di pihak pengirim dalam hal ini PT Makassar Te’ne,” kata Kasat Reskrim Polresta Banjarmasin, Kompol Suhasto di Banjarmasin, Jumat (3/12). Dikatakannya, sesuai Undang Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan, penanggung jawab jika terjadi permasalahan hukum adalah direktur utama.

Namun, Suhasto tidak mau menyebut nama tersangka tersebut. “Yang namanya dirut pasti satu, makanya silakan cari sendiri,” katanya.

Informasi yang dihimpun BPost, dirut PT Makasar Te’ne bernama Abuan sedangkan kepala perwakilan perusahaan itu di Kalsel adalah Benny Lesmana.

Ditambahkan Suhasto, sesuai Kepmenperindag Nomor 334 Tahun 2004 yang merupakan penjabaran Keppres Nomor 57 Tahun 2004, gula adalah barang kebutuhan masyarakat yang perlu diawasi. Oleh karena itu, distribusinya wajib dilengkapi dokumen.

“Karena pengirimannya antarpulau, maka diperlukan dokumen berupa SPPGRAP itu,” ujarnya.

Mengenai kemungkinan adanya tersangka lain, Suhasto menyatakan hal itu bisa saja. Pasalnya, pengiriman gula itu terjadi karena ada pemesanan. Si pemesan bisa dinilai turut serta.

“Tetapi mengenai sejauh mana keterlibatannya, penyidik masih minta keterangan sejumlah pakar hukum pidana,” katanya.

Tentang penyitaan gula yang berada dalam 150 peti kemas itu, Suhasto mengatakan polisi belum bisa melakukannya karena masih menunggu surat dari pengadilan.

Saat ditemui, Benny Lesmana mengaku belum mendapatkan pemberitahuan penetapan status tersangka untuk bosnya.

“Kalau soal status saya no comment. Tapi kami akan kooperatif, agar semua permasalahannya segera selesai,” ujarnya.

Dikatakannya, pengiriman gula tersebut untuk memenuhi keperluan masyarakat Kalsel untuk menekan lonjakan harga gula seperti yang terjadi di provinsi lain. “Sebenarnya yang perlu diingat, di Kalsel ini kan tidak ada petani tebu atau pabrik gula. Tapi dengan adanya gula rafinasi, harga tetap stabil,” kata Benny.

Terkait permasalahan gula ini, kemarin, komisi II DPRD Kalsel mendatangi sejumlah gudang gula milik distributor di Banjarmasin. Ada empat lokasi yang didatangi rombongan yang dipimpin Ketua Komisi, Mohammad Ikhsanudin ini. Yang didatangi adalah gudang milik H Ijai, CV Bentang Asia Sejahtera, CV Nela Afta dan penyimpanan gula rafinasi di Pelabuhan Trisakti.

“Kami bingung karena data kebutuhan gula untuk Kalsel berbeda-beda. Kami akan memanggil seluruh distributor untuk mendapatkan data yang sebenarnya,” tegas Ikhsanudin. (Banjarmasin Post)

2 thoughts on “Tersangka Gula Tak Cuma Satu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s