Ogi: Printing Bikin Gatal

 

  • PNS Banjarbaru Diimbau Pakai Sasirangan Asli

BANJARBARU – Pada hari tertentu, pegawai negeri sipil (PNS) di Kalsel diwajibkan mengenakan kemeja sasirangan. Tragisnya, banyak yang memilih mengenakan kemaja sasirangan printing, bukan hasil kerajinan yang menjadi khas provinsi ini.

Beragam alasan dikemukakan mereka. Dari harga murah hingga motif yang dinilai lebih menarik. Namun, alasan itu tidak berlaku bagi Wakil Wali Kota Banjarbaru, Ogi Fajar Nuzuli. Tak hanya untuk dirinya, Ogi mengimbau para PNS di Banjarbaru mengenakan kemeja sasirangan asli.

Selain berupaya ikut melestarikan budaya Banjar, ada alasan lain. “Kain sasirangan asli itu lebih enak dipakai, jadi saya selalu pilih kain sasirangan asli. Kalau yang printing tidak enak dipakai karena membuat saya lebih cepat berkeringat lalu biang keringat, bikin gatal,” katanya kepada BPost, Jumat (3/12).Tak hanya di lingkungan pemko, para legislator dan PNS di DPRD Banjarbaru juga lebih memilih sasirangan asli. “Lebih nyaman juga selera saya lebih cocok ke sasirangan asli,” ucap Ketua Komisi I, Tafsir.

Dikatakannya, serbuan sasirangan printing ke Banua memang tidak bisa dihindari karena banyak konsumen memerlukan dalam jumlah banyak dalam waktu cepat. “Sasirangan printing yang bisa memenuhi itu. Namun, sebagai warga Banjar sebaiknya mengenakan yang asli karena itu hasil kerajinan khas Kalsel,” katanya.

Berdasar pantauan koran ini, sasirangan asli juga masih menjadi pilihan utama PNS Pemkab Banjar. Alasan mereka rata-rata sama yakni kualitas dan kenyamanan saat dikenakan. “Banyak yang menjual sasirangan printing, namun saya tidak berminat. Rasanya panas kalau dipakai beda dengan hasil kerajinan. Yang printing cepat bikin gerah,” tegas pegawai bagian Tata Pemerintahan, Intan.

Pun dengan Hairul Ansyari. Saat ditemui dia mengenakan kemeja sasirangan berwarna kuning. Dia memastikan kemejanya itu bermotif sasirangan asli. Sebagai buktinya, dia memperlihatkan bagian dalam kemeja. Jika yang asli, motifnya tidak di bagian luar saja.

Dia mengaku pernah membeli kain sasirangan printing. “Namun, setelah dijahit menjadi kemeja, hasilnya kurang bagus. Ukurannya mengecil, beda saat diukur,” tegasnya.

Pegawai bagian Humas, Isna menambahkan, alasan sasirangan printing lebih murah, tidak tepat. Pasalnya, kain sasirangan asli juga beragam sehingga harganya juga variatif. “Kalau kainnya katun, murah saja hanya Rp 25 ribu per meter. Kalau berbahan sutera tentu lebih mahal,” katanya.

Kebanggaan mengenakan sasirangan asli dikemukakan Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Banjar Farid Soufian.

“Ini cara kita menjaga budaya Banjar. Saya juga imbau para pegawai untuk memilih yang tradisional. Saat ini tinggal pembinaan perajin dan mengampanyekan penggunaan sasirangan tradisional,” tegasnya.

Kondisi serupa terjadi di Pemkab Tapin. Sejumlah pegawai seperti Syahril dan Ema juga memilih sasirangan hasil karya perajin yang jumlahnya ribuan di Kalsel ini.

“Kalau tidak pakai sasirangan yang asli, saya memilih mengenakan kemeja batik karena memberikan kesan elegan. Kalau sasirangan asli lebih bernilai seni,” ucap Syahril. (Banjarmasin Post)

One thought on “Ogi: Printing Bikin Gatal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s