Mereka Ribut

PADA 2007, kami melakukan penjajakan dengan pabrik di Jawa untuk membikin sasirangan printing. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan seragam anak sekolah karena biaya produksi sasirangan printing lebih murah.

Kami membuat sample kemudian ditawarkan ke sekolah-sekolah. Sasirangan printing memiliki kelebihan seperti motif dan warnanya bisa seragam meski dalam jumlah banyak.

Pemerintah tidak bisa melarang peredaran sasirangan printing karena dengan adanya itu justru mendorong dan menumbuhkembangkan persaingan ke arah yang positif, seperti kualitas.

Tetapi upaya kami itu tidak mendapat respons dari (pengelola) sekolah. Perajin, juga merasa usahanya dimatikan. Perajin ribut. Bahkan, ada yang langsung menelepon saya.

Padahal tidak seperti itu. Tujuannya agar mengembangkan sasirangan di kalangan anak sekolah. Peruntukannya juga terbatas, khusus untuk anak sekolah. Namun karena tidak mendapat respons, penjajakan itu kami hentikan.

Menurut saya, perajin sulit bersaing dengan pabrikan. Untuk itulah, harus ada aturan yang mengatur persaingan tersebut. Pengusaha besar hendaknya bersaing dengan sesama pengusaha besar pula. Terjadi persaingan yang sifatnya selevel dan tidak mematikan perajin.

Di sisi lain, perajin harus lebih kreatif untuk meningkatkan kualitas karena selera pasar kerap berubah. Terutama motif dan pewarnaan agar bisa bersaing. (Banjarmasin post)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s