BANJARMASIN - Pasar Terapung yang menjadi ikon Kalimantan Selatan kini terancam. Jumlah pedagang di pasar yang berada di muara Kuin Sungai Barito terus berkurang.
Padahal keberadaan pedagang tradisional yang berjualan di atas jukung inilah yang menjadi kekhasan pasar terapung.

BERKURANG - Pedagang pasar terapung di Sungai Barito, Banjarmasin, makin berkurang. Padahal pasar ini merupakan salah satu aset wisata andalan Kalsel yang tidak ditemui di daerah lain di Indonesia. FOTO: BANJARMASIN POST GROUP/APUNK
Berdasar data dari Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Banjarmasin, dari 2008 hingga 2010, jumlah pedagangnya mengalami penurunan. Pada 2008, jumlah jukung rombong ada 10 buah. Tahun ini hanya tersisa sembilan, hilang satu karena dicuri. Sedangkan jukung biasa, pada 2008 berjumlah 125 buah, hingga kini hanya tersisa 75. Hanya jukung beratap, baik yang bermesin ataupun tidak yang masih tetap, yaitu 25 buah.
Menurut Kepala Seksi Promosi Disbudparpora Banjarmasin, Yurdani, kondisi pasar terapung di Kuin, dari tahun ke tahun kian terpuruk. Selain karena tiadanya dana dari pemerintah Kota Banjarmasin, juga karena minimnya pengelolaan.
Lanjutkan Membaca