Masihkah Kita Peduli

TERNYATA hidup di ibu kota provinsi, Banjarmasin, tidak menjamin keterlayanan warganya dalam hal kesehatan. Buktinya, Rusdahniar, perempuan 20 tahun, sejak kecil terserang deman secara berulang dan usia tiga tahun, divonis polio sampai sekarang.

Karena tergolong dari keluarga miskin, Rusdahniar hanya bisa berbaring di tengah rumah yang didiami keluarga Ruslan-Jawiyah di Jalan Teluk Kelayan Gang Sedatu No 35 RT 5 RW 2 Kelurahan Kelayan Barat, Kecamatan Banjarmasin Selatan (Banjarmasin Post, 28/1/2012). Baca lebih lanjut

Uji Coba Bukan Beban

Mulai kemarin hingga Rabu (8/2), siswa SMA/MA/SMK di Kalimantan Selatan mengikuti try out (uji coba) Ujian Nasional tahun ajaran 2011/2012 .

Walau nilai UN bukan lagi satu-satunya penentu kelulusan siswa, namun mereka serius mengikuti. Maklum saja, ujian akhir masih menjadi momok bagi siswa. Tak heran bila berbagai persiapan terus dilakukan sekolah maupun dinas pendidikan, agar siswa siap menghadapi UN. Baca lebih lanjut

Narkoba dan Kultur Korup

PUBLIK kembali dikejutkan oleh berita penangkapan seorang pilot pengguna narkotika. Pilot sipil ini diciduk tiga jam sebelum menerbangkan pesawatnya. Aparat dari Badan Narkotika Nasional menyita sejumput barang bukti. Tes urine juga menunjukkan pilot ini positif mengonsumsi narkotika.

Penangkapan terjadi di sebuah hotel di Surabaya, tempat rehat pilot ini bersama sejawatnya sebelum menerbangkan pesawat ke Makassar dan Balikpapan. Belum sebulan berselang, seorang pilot dari maskapai penerbangan yang sama ditangkap di Makassar, juga kerena kasus narkotika.

Insiden ini menambah panjang daftar pilot penerbangan sipil yang terjerat kasus narkotika dan obat berbahaya. Agustus silam sejawat dua pilot ini ditangkap di sebuah tempat di Tangerang, juga karena mengonsumsi narkotika. Baca lebih lanjut

Potensi Mesuji di Balangan

SATU informasi mengejutkan disampaikan oleh Ibnu Sina, salah seorang anggota DPRD Kalsel. Menurut dia, di Kabupaten Balangan –202 km dari Banjarmasin– telah terjadi ‘perampasan’ tanah milik rakyat oleh sebuah perusahaan pertambangan batu bara.

Perusahaan yang disebut Ibnu dengan inisial PM itu menggunakan jasa kelompok massa bersenjata untuk mengintimidasi warga setempat. Dengan cara itu, sedikitnya 1.000 hektare lahan yang telah berhasil ‘dicaplok’
Baca lebih lanjut

Distorsi Moral di Unlam

UNIVERSITAS Lambung Mangkurat kembali diterpa isu tak sedap. Perguruan tinggi pelat merah di Kalimantan Selatan, ini kabarnya terbelit kasus korupsi bernilai puluhan miliar rupiah. Aparat Kejaksaan Negeri Banjarmasin sibuk menelisik kasus korupsi yang terjadi di sejumlah fakultas tersebut.

Kabar miring yang terjadi di Unlam ini, tentunya membuat kita kembali mengurut dada. Betapa tidak, dalam kurun waktu sepekan terakhir, berita tidak sedap menyeret-nyeret nama Unlam dalam hal ketidakberesan masalah keuangan. Pekan lalu, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) merilis adanya peredaran rekening liar di lingkungan perguruan tinggi kebanggaan kita ini. Dan, kini skandal gajah penyalahgunaan anggaran tiba-tiba menyeruak ke permukaan. Baca lebih lanjut

Menggugat Hak Terampas

LEMAH dan terkebelakang. Pandangan itulah yang masih melekat pada masyarakat adat di seluruh Indonesia. Menyakitkan memang, tapi itulah yang terjadi sampai sekarang. Sepertinya, pandangan negatif terhadap masyarakat adat tersebut sengaja dilestarikan.

Sejarah sudah mencatat. Di masa Rezim Orde Baru, masyarakat adat sangat “teraniaya” baik secara politik, kultural maupun ekonomi. Dibungkus dalam berbagai kebijakan, negara secara nyata telah mengambil-alih hak asal usul, hak atas wilayah adat, hak untuk menegakkan sistem nilai, ideologi dan adat istiadat, hak ekonomi, dan hak politik masyarakat adat. Baca lebih lanjut

Selesaikan Sumber Masalahnya

SEPEKAN lalu, mobil Daihatsu Xenia hitam yang dikemudikan Afriani Susanti menabrak 12 orang pejalan kaki di Jalan MI Ridwan Rais, Tugu Tani, Gambir, Jakarta Pusat, pekan silam.

Akibatnya sembilan orang tewas. Afriani sendiri menuai hujatan dan banyak orang berharap agar dia mendapat hukuman seberat-beratnya. Bahkan, ada yang mengusulkan agar dia diganjar hukuman mati.

Hujatan dan makian tersebut diterima Afriani, karena berdasar hasil pemeriksaan urine dan darahnya, perempuan tersebut diketahui dalam kondisi mabuk alkohol, ekstasi, sabu, dan ganja, saat mengemudikan mobil. Baca lebih lanjut

Seperti Kembali ke Hukum Rimba

HARI-hari ini publik di tanah air kembali di sodori realitas versi media mengenai aneka peristiwa yang menunjukkan aksi-aksi keras sekelompok orang atas kelompok lain. Di Lampung, terjadi penyerbuan atas sebuah kampung diikuti pembakaran rumah penduduk.

Belum kering kabar itu dari perbincangan, meledak pula aksi massa di Bima, Nusa Tenggara Barat. Sangat boleh jadi, ini aksi pertama di tanah air: rakyat membakar kantor bupati mereka sendiri.

Di Jawa Barat, aksi buruh melumpuhkan lalu-lintas di jalan tol, sementara kekerasan oleh oleh perorangan atau kelompok terhadap warga dan aparat terus terjadi secara sporadis di Aceh dan di Papua. Baca lebih lanjut

Partai Anas Makin Panas

demokrat-2512

Partai Demokrat

ADA adagium dalam dunia politik. Tidak ada kawan atau lawan sejati. Yang ada adalah kepentingan abadi. Adagium itu pun bukanlah sekadar kalimat yang enak dieja, tetapi benar-benar terjadi.

Banyak orang yang hancur karier politiknya karena ulah orang dekat atau teman separtai. Sebaliknya, tidak sedikit pula yang melambung karier politiknya karena tegas ‘menginjak’ rekan.

Wajah para politisi juga sulit ditebak. Bisa saja, di depan umum mereka saling bergandeng tangan, berangkulan bahkan berciuman pipi sambil tersenyum lebar, tetapi di balik itu saling menjatuhkan. Bisa saja pula, seorang politisi berwajah ‘culun’ dan selalu bersikap santun, ternyata adalah ‘pembunuh berdarah dingin’. Baca lebih lanjut

(Adakah) Niat Baik Pejabat

MENGAPA banyak orang di negeri ini berlomba-lomba ingin menjadi pejabat (negara)? Jawabannya, mudah. Selain memperoleh gaji yang besar, dan diberikan berbagai fasilitas serba mewah, mulai rumah, kendaraan bermotor dan harta benda lainnya. Selain juga tentunya keterkenalan di mata publik.

Jadi, tidak perlu heran kalau setiap orang berebut ingin menjadi pejabat. Mulai jabatan paling tertinggi dalam hirarki kepemimpinan di negeri ini, presiden, menteri, gubernur, bupati, dan wali kota, sampai yang paling rendah; kepala desa, menjadi incaran banyak orang. Tidak lagi terbatas dia penguasa, orang biasa, sampai para politisi yang memang dikenal paling bernafsu memburu posisi-posisi terhormat tersebut. Baca lebih lanjut