- Pemasok Mengaku Berdasar Permintaan

POSTER - Salah satu poster yang dipampang salah seorang pengusaha sekaligus perajin sasirangan di Banjarmasin, kemarin. Foto by: BANJARMASIN POST GROUP/ SALMAH
BANJARMASIN - Beredar bebasnya kain sasirangan printing (cetak) tak hanya mencemaskan para perajin. Budayawan Banua juga bereaksi keras.
Salah seorang budayawan, Syamsiar Seman dengan lantang menilai peredaran sasirangan ‘aspal’ (asli tapi palsu) itu merusak tatanan budaya Banjar.
“Terus terang saya tidak setuju. Itu merusak karena dari sisi pembuatannya bukan kerajinan tangan lagi, tetapi oleh mesin,” tegas Syamsiar kepada BPost, Rabu (1/12). Menurut dia, pemerintah daerah harus segera bersikap untuk menertibkan peredaran sasirangan printing.
Selain itu, menyadarkan warga Banua yang tidak mendukung pelestarian budaya Banjar. “Jelas bukan hanya prihatin, tetapi juga menolak. Orang Banjar harus disadarkan untuk selalu memelihara kerajinan ciri khas Banjar,” tegasnya.Hal senada dilontarkan budayawan, Syarifudin. Dia menegaskan kehadiran teknologi printing pasti mengancam para perajin sasirangan yang menggunakan teknologi manual.
Lanjutkan Membaca