ADA adagium dalam dunia politik. Tidak ada kawan atau lawan sejati. Yang ada adalah kepentingan abadi. Adagium itu pun bukanlah sekadar kalimat yang enak dieja, tetapi benar-benar terjadi.
Banyak orang yang hancur karier politiknya karena ulah orang dekat atau teman separtai. Sebaliknya, tidak sedikit pula yang melambung karier politiknya karena tegas ‘menginjak’ rekan.
Wajah para politisi juga sulit ditebak. Bisa saja, di depan umum mereka saling bergandeng tangan, berangkulan bahkan berciuman pipi sambil tersenyum lebar, tetapi di balik itu saling menjatuhkan. Bisa saja pula, seorang politisi berwajah ‘culun’ dan selalu bersikap santun, ternyata adalah ‘pembunuh berdarah dingin’.
Aksi saling menjegal, menjatuhkan, dan membunuh karakter sesama politisi itu terjadi di semua partai. Hanya, yang mencuat saat ini adalah kisruh di Partai Demokrat (PD). Ketua umum partai tersebut, Anas Urbaningrum sedang digoyang sesama kader PD.
Diyakini, perseteruan itu merupakan warisan perebutan posisi ketua umum –menggantikan Hadi Utomo– dalam kongres di Bandung, Jabar, pertengahan Mei 2010. Saat itu ada tiga calon yang bersaing yakni Anas, Andi Mallarangeng dan Marzuki Alie. Hasilnya, dalam duel dengan Marzuki, Anas terpilih sebagai ketua umum. Sejak itu pula goyangan terhadap kursi Anas sudah kerap terjadi, meski skalanya kecil.
‘Tsunami’ bagi Anas mulai terjadi saat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengutik-utik kasus dugaan suap proyek wisma atlet di Palembang, Sumsel. ‘Orang dekat’ Anas di partai, M Nazaruddin pun dibekuk setelah sempat buron selama beberapa bulan.
Saat kabur terlebih setelah ditangkap, Nazar terus menyebut Anas dan sejumlah politisi lain terlibat kasus tersebut dan sejumlah kasus lain. Tak hanya Nazar yang memojokkan Anas, tetapi juga terpidana dalam kasus itu, Mindo Rosalina Manulang.
Rosa menyebut Anas adalah ‘ketua besar’ yang ikut menikmati fee (komisi) sebesar puluhan miliar dari proyek tersebut. Terakhir, saksi di kasus serupa, Yulianis juga terang-terangan menyebut keterlibatan Anas.
Anas berulang kali membantah tudingan itu. Dia menyebut penudingnya sedang mengigau dan mendongeng. Melalui pengacaranya, Patra M Zen, dia mengadukan mereka ke Mabes Polri atas tuduhan pencemaram nama baik.
Terlepas dari kubu mana yang benar, permasalahan tentu berimbas pada citra partai penguasa itu. Ketika partai lain bahkan partai bar sudah ‘bergerak’ menyiapkan fondasi politik menghadapi Pemilu 2014, PD masih berkutat pada permasalahan ‘perang kubu”.
Sangat tragis, dan kian terasa tragis jika membayangkan tidak ada figur yang kuat dan layak diajukan sebagai calon presiden.
Semula, Anas yang dinilai sebagai politisi santun digadang-gadang menjadi figur pengganti Yudhoyono. Kini, fakta politik memperlihatkan citra Anas tidak sebagus saat Yudhoyono dulu maju dalam dua kali pemilihan presiden. Ingat juga, tidak ada jaminan, serangan untuk Anas dan partainya, berhenti pada kasus Nazaruddin. Sangat mungkin, partai lain akan melakukan serangan dalam bentuk lain agar citra PD kian anjlok di mata masyarakat.
Tak ada jalan lain bagi PD untuk segera ‘bersih-bersih’. Jangan ragu-ragu menjatuhkan sanksi –bahkan kalau perlu mencopotnya– jika memang terbukti melakukan pelanggaran Hukum. Asas praduga tidak bersalah memang harus dikedepankan, tetapi jika KPK sudah menjadikan seorang kader sebagai tersangka, mau tak mau sesuai anggaran dasar dan anggaran rumah tangga partai, langkah itu harus dihentikan.
Memang politik itu kejam. Ibarat harimau, dia bisa saja memakan anaknya. (*)
